Geger! MPPA Lippo Borong Aset Rp780 Miliar, Strategi di Tengah Badai Rugi?

Geger! MPPA Lippo Borong Aset Rp780 Miliar, Strategi di Tengah Badai Rugi?

Haluannews Ekonomi – Emiten ritel raksasa, PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA) di bawah naungan Grup Lippo, membuat langkah strategis dengan mengakuisisi enam aset properti berupa tanah dan bangunan senilai total fantastis Rp780 miliar. Transaksi jumbo ini, yang seluruh perjanjian pengikatan jual belinya diteken pada 18 Februari 2026, telah diumumkan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI).

COLLABMEDIANET

Rincian akuisisi menunjukkan diversifikasi aset yang signifikan. Dari PT Surya Asri Lestari (SAL), MPPA membeli dua properti: tanah seluas 8.001 meter persegi dan gedung pusat perbelanjaan Mega M Kedung Badak di Kelurahan Kedung Badak, Kecamatan Tanah Sereal, senilai Rp122 miliar; serta tanah 2.056 meter persegi dan gedung Sinar Matahari Bogor di Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, seharga Rp49,50 miliar.

Geger! MPPA Lippo Borong Aset Rp780 Miliar, Strategi di Tengah Badai Rugi?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Selanjutnya, kesepakatan dengan PT Panca Megah Utama (PMU) mengamankan tanah 6.704 meter persegi dan gedung pusat perbelanjaan Plaza Gresik di Kelurahan Sidomoro, Kecamatan Kebomas, senilai Rp134,50 miliar. PT Nusa Malioboro Indah (NMI) melepas tanah 1.658 meter persegi dan gedung Gedoeng Merah ex Matahari Malioboro di Kelurahan Sosromenduran, Kecamatan Gedongtengen, dengan harga Rp68 miliar.

Akuisisi terbesar datang dari PT Citra Cito Perkasa (CCP) untuk bangunan bertingkat yang mencakup rumah susun seluas 16.138,06 meter persegi di Kelurahan Dukuh Menanggal, Kecamatan Gayungan, dengan nilai Rp351,50 miliar. Terakhir, MPPA juga membeli tanah seluas 38.169 meter persegi dari PT Balaraja Sentosa (Balaraja) di Kelurahan Sukamurni dan Kelurahan Tobat, Kecamatan Balaraja, seharga Rp54,50 miliar.

Menurut Corporate Secretary MPPA, Mirtha Sukanto, langkah korporasi ini diharapkan "memberikan dampak positif terhadap kegiatan usaha yang dijalankan oleh Perseroan serta memberikan nilai tambah bagi pemegang saham Perseroan," seperti dikutip Haluannews.id pada Kamis (18/2/2026). Namun, Mirtha tidak merinci lebih lanjut peruntukan spesifik dari keenam properti yang baru diakuisisi tersebut, meninggalkan tanda tanya di kalangan investor.

Ironisnya, manuver belanja besar ini terjadi di tengah bayang-bayang kinerja keuangan MPPA yang memprihatinkan. Emiten ritel pengelola Hypermart ini tercatat telah membukukan kerugian bersih selama sembilan tahun beruntun, terhitung sejak 2017 hingga proyeksi 2025. Laporan keuangan terbaru per Desember 2025 menunjukkan kerugian tahun berjalan yang membengkak menjadi Rp152,21 miliar, naik signifikan dari Rp118,1 miliar pada tahun 2024.

Akumulasi kerugian ini telah menyeret MPPA ke dalam saldo defisit yang belum ditentukan penggunaannya sebesar Rp2,95 triliun per akhir 2025, bahkan menciptakan defisiensi modal atau ekuitas negatif sebesar Rp2,24 miliar. Laba bersih terakhir kali dicatatkan MPPA adalah pada tahun 2016 senilai Rp38,48 miliar, jauh menurun dari puncak kejayaan di tahun 2014 dan 2015 yang masing-masing mencapai Rp574 miliar dan Rp222 miliar.

Langkah akuisisi properti jumbo di tengah rentetan kerugian panjang ini tentu memicu spekulasi dan pertanyaan besar di pasar mengenai strategi jangka panjang MPPA untuk membalikkan keadaan dan mengembalikan kepercayaan investor.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar