Haluannews Ekonomi – Pasar keuangan Indonesia kembali diwarnai sentimen negatif seiring dengan laju pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin (9/3/2026), mata uang Garuda langsung terdepresiasi 0,47%, menempatkan posisinya di Rp16.980 per dolar AS. Kondisi ini kian mengkhawatirkan setelah beberapa bank, termasuk bank asing, terpantau sudah mematok harga jual dolar AS di level psikologis Rp17.000, bahkan mencapai puncaknya di Rp17.305.

Related Post
Tren pelemahan ini bukan hal baru, melainkan kelanjutan dari tekanan yang terjadi pada penutupan perdagangan pekan lalu, Jumat (6/3/2026), di mana rupiah juga melemah 0,15% dan ditutup di angka Rp16.900 per dolar AS. Pergerakan ini mengindikasikan adanya tekanan jual yang signifikan terhadap rupiah, mendorong kurs ke ambang batas krusial Rp17.000 yang berpotensi memicu kekhawatiran lebih lanjut di kalangan pelaku pasar.

Pantauan Haluannews.id menunjukkan bahwa sejumlah bank di Indonesia telah menyesuaikan kurs jual dolar AS mereka seiring dengan pergerakan pasar. Bank-bank besar nasional seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dalam berbagai jenis transaksi (E-Rate, TT Counter, Bank Notes), sudah mematok harga jual di atas Rp17.000. Sebagai contoh, BCA mencatat kurs jual TT Counter dan Bank Notes di Rp17.150, sementara Bank Mandiri di Rp17.020 untuk jenis transaksi serupa.
Namun, yang paling mencolok adalah penetapan kurs oleh bank-bank asing. PT Bank HSBC Indonesia, per pukul 09.03 WIB, bahkan menjual dolar AS untuk transaksi Banknote rates di Rp17.305, menjadi yang tertinggi di antara bank-bank yang dipantau Haluannews.id. Tak ketinggalan, MUFG Bank Jakarta Branch juga mematok TTS (Telegraphic Transfer Selling) di Rp17.250, dan PT Bank UOB Indonesia di Rp17.192. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pasar interbank dan transaksi valuta asing di level ritel sudah mengantisipasi atau bahkan merefleksikan sentimen pelemahan rupiah yang lebih dalam.
Situasi ini tentu menjadi perhatian serius bagi pelaku ekonomi, terutama importir dan perusahaan yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing. Kenaikan kurs dolar AS secara signifikan dapat membebani biaya operasional dan menekan margin keuntungan. Pemerintah dan otoritas moneter diharapkan dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk menstabilkan pergerakan rupiah di tengah gejolak pasar global yang masih penuh ketidakpastian.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar