Haluannews Ekonomi – Jakarta – Pasar properti Singapura kembali dihebohkan dengan transaksi jumbo. Pacific Eagle Real Estate, perusahaan investasi dan pengembang properti yang berafiliasi dengan konglomerat terkemuka Indonesia, Sukanto Tanoto dan keluarganya, dilaporkan menjual sebidang lahan freehold strategis senilai US$118 juta, atau setara dengan Rp 1,5 triliun. Penjualan aset bernilai tinggi ini sontak menarik perhatian pelaku pasar dan pengamat ekonomi, menyoroti dinamika investasi properti di kawasan regional.

Related Post
Lahan premium yang dilepas oleh entitas di bawah bendera Royal Golden Eagle (RGE) Group ini berlokasi di distrik elit 10 Singapura, tepatnya di persimpangan Jalan Bukit Timah dan Jalan Duke. Dengan luas mencapai 18.512 kaki persegi, properti ini menawarkan potensi pengembangan yang signifikan di salah satu kawasan paling dicari di Negeri Singa. Lokasi ini dikenal sebagai area hunian dan komersial eksklusif dengan nilai properti yang terus merangkak naik.

Menurut keterangan dari agen pemasaran Cushman & Wakefield, lahan tersebut memiliki izin penggunaan komersial dan perumahan dengan rasio luas lahan kotor (GPR) 3,0. Ini berarti properti tersebut dapat dibangun kembali menjadi proyek multifungsi berlantai lima, sebuah langkah strategis untuk memaksimalkan nilai investasi di lokasi tersebut. Saat ini, di atas lahan tersebut berdiri bangunan empat lantai yang dimanfaatkan untuk empat penyewa ritel dan makanan & minuman di lantai dasar, sementara lantai atas disewakan untuk operator hunian.
Nilai strategis lokasi ini tidak hanya terletak pada izin pengembangannya, tetapi juga pada aksesibilitas dan fasilitas di sekitarnya yang sangat prima. Properti ini berjarak kurang dari satu kilometer dari sekolah-sekolah bergengsi seperti SD Nanyang dan SD Putri Raffles. Institusi pendidikan terkemuka lainnya seperti Institusi Hwa Chong, SMA Putri Nanyang, SMP Nasional, Sekolah Putri China Singapura, dan Institut St. Joseph juga berada dalam jangkauan mudah, menjadikannya sangat menarik bagi keluarga mapan.
Selain itu, kawasan Bukit Timah dikenal sangat terkoneksi dengan infrastruktur kota. Lahan ini hanya berjarak sekitar 300 meter dari Stasiun MRT Botanic Gardens, memudahkan akses transportasi publik ke berbagai penjuru kota. Berbagai fasilitas penunjang gaya hidup modern juga tersedia, termasuk Adam Road Food Centre, Serene Centre, Cluny Court, dan Coronation Plaza, yang semuanya menambah daya tarik investasi di area tersebut.
Harga tanah di lokasi ini diperkirakan mencapai US$2.193 atau sekitar Rp 29 juta per kaki persegi berdasarkan rasio plot. Penjualan ini dilakukan melalui pengajuan pernyataan minat (Expression of Interest/EOI) yang difasilitasi oleh Cushman & Wakefield, dengan batas waktu penawaran hingga 5 Mei 2026 mendatang. Agen pemasaran menegaskan bahwa ini adalah "kesempatan langka" untuk memiliki lahan pengembang ulang berstatus hak milik penuh (freehold) di kawasan Bukit Timah yang sangat diminati, mengindikasikan prospek keuntungan yang menjanjikan bagi investor baru.
Transaksi ini menyoroti strategi portofolio investasi konglomerat Indonesia di pasar properti global yang dinamis, sekaligus menunjukkan tingginya minat terhadap aset-aset premium di Singapura. Haluannews.id mencatat bahwa langkah ini bisa menjadi bagian dari diversifikasi atau optimalisasi aset dalam portofolio bisnis keluarga Sukanto Tanoto, mengingat kondisi pasar properti yang terus berkembang.
Editor: Rohman








Tinggalkan komentar