Gawat! Rupiah Anjlok ke Rp16.860, Gejolak Global Mencekam!

Gawat! Rupiah Anjlok ke Rp16.860, Gejolak Global Mencekam!

Haluannews Ekonomi – Jakarta – Nilai tukar rupiah mengakhiri sesi perdagangan awal pekan dengan performa yang kurang menggembirakan, mencatat pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan jual yang masif membuat mata uang Garuda terdepresiasi tajam, seiring dengan penguatan masif greenback di pasar global yang dipicu oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah.

COLLABMEDIANET

Berdasarkan data Refinitiv yang dihimpun Haluannews.id, pada Senin (2/3/2026), rupiah ditutup di zona merah dengan pelemahan 0,60%, menempatkannya pada level Rp16.860 per dolar AS. Posisi ini sekaligus menjadi titik terlemah rupiah dalam dua pekan terakhir, mengindikasikan respons pasar yang sensitif terhadap dinamika global dan domestik.

Gawat! Rupiah Anjlok ke Rp16.860, Gejolak Global Mencekam!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Indikasi pelemahan rupiah sudah terdeteksi sejak pembukaan pasar pagi. Rupiah memulai perdagangan dengan depresiasi 0,30% di level Rp16.810 per dolar AS, dan tekanan jual terus berlanjut tanpa henti hingga penutupan sesi sore.

Sentimen pasar global didominasi oleh kekhawatiran atas memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Insiden serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026), yang kabarnya menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, memicu reaksi berantai. Laporan intelijen juga mengindikasikan bahwa Iran telah merespons dengan melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah aset AS di berbagai negara tetangga, termasuk Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, Yordania, Irak, dan Suriah.

Kondisi ini secara langsung memicu aksi risk-off di pasar keuangan global, mendorong investor untuk mencari perlindungan pada aset-aset yang dianggap aman (safe haven), terutama dolar AS. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama lainnya, terpantau melonjak tajam 0,84% ke level 98,429 pada pukul 15.00 WIB. Lonjakan DXY ini menjadi indikator kuat bahwa pelaku pasar secara agresif memburu aset berdenominasi dolar AS, yang pada gilirannya memberikan tekanan jual signifikan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Di sisi domestik, sentimen pasar juga diwarnai oleh rilis data inflasi Februari 2026 dari Badan Pusat Statistik (BPS), yang turut menjadi perhatian pelaku ekonomi. Menurut laporan BPS, inflasi bulanan (month-to-month/mtm) pada Februari 2026 tercatat sebesar 0,68%. Angka ini merefleksikan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,75 pada Januari 2026 menjadi 110,50 pada bulan berikutnya.

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers yang diselenggarakan pada Senin (2/3/2026), menegaskan, "Pada bulan Februari tahun 2026, kami mencatat inflasi sebesar 0,68%, yang ditandai dengan kenaikan indeks harga konsumen dari 109,75 di Januari menjadi 110,50 di Februari."

Secara tahunan (year-on-year/yoy), laju inflasi Februari mencapai 4,76%. Data ini menyoroti bahwa tingkat inflasi tahunan tersebut merupakan yang tertinggi sejak Maret 2023, ketika inflasi Indonesia sempat menyentuh angka 4,97%. Kombinasi tekanan eksternal dan data inflasi domestik yang tinggi menjadi tantangan ganda bagi stabilitas rupiah.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar