Gawat! Krisis Energi Asia Mencekik, Batu Bara Kembali Jadi Raja!

Gawat! Krisis Energi Asia Mencekik, Batu Bara Kembali Jadi Raja!

Haluannews Ekonomi – Gejolak geopolitik di Timur Tengah, yang kini memasuki minggu ketiga, telah memicu krisis energi akut yang membayangi kawasan Asia. Konflik tersebut melumpuhkan Selat Hormuz, urat nadi pengiriman energi global, dan menghentikan total produksi LNG dari Qatar. Akibatnya, seperlima pasokan gas alam cair (LNG) global mendadak lenyap dari pasar, menciptakan ancaman eksistensial bagi negara-negara ekonomi raksasa seperti Jepang, Singapura, hingga Taiwan yang menggantungkan sepertiga kebutuhan listrik mereka pada gas.

COLLABMEDIANET

Laporan dari The New York Times, yang dikutip oleh Haluannews.id, mengungkapkan bahwa terhentinya suplai dari Qatar secara drastis mendorong perusahaan utilitas di seluruh Asia untuk memburu kargo di pasar spot. Demi menghindari kelangkaan massal, kompetisi sengit pun tak terhindarkan, memaksa mereka berebut sisa kargo dengan harga yang meroket hingga menyentuh rekor tertinggi. Kondisi ini secara nyata memperlebar jurang ekonomi antara negara-negara kaya yang memiliki daya beli untuk mengakuisisi kargo mahal, dan negara-negara berkembang yang terancam pemadaman listrik bergilir.

Gawat! Krisis Energi Asia Mencekik, Batu Bara Kembali Jadi Raja!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Negara-negara berkembang seperti Pakistan dan Bangladesh kini berada dalam posisi yang sangat sulit. Mereka kalah bersaing dalam perang harga dengan negara-negara maju, yang secara langsung meningkatkan risiko pemadaman listrik yang meluas. Untuk menjaga ketahanan energi nasional, tren transisi energi di Asia kini menunjukkan indikasi "putar balik" yang mengejutkan, dengan banyak negara kembali melirik batu bara sebagai solusi darurat.

Di Thailand, pemerintah telah mengeluarkan instruksi agar pembangkit listrik tenaga batu bara beroperasi pada kapasitas penuh, diiringi kucuran subsidi besar-besaran untuk meredam dampak lonjakan harga energi terhadap masyarakat. Langkah serupa juga diambil oleh Taiwan dan Korea Selatan, yang mulai mengaktifkan kembali pembangkit batu bara lama dan meningkatkan produksi energi nuklir. Ini dilakukan guna mengkompensasi volatilitas pasokan gas dan minyak yang kian tak menentu.

Ketidakpastian pasokan ini telah merusak reputasi LNG, yang selama ini digadang-gadang sebagai "bahan bakar transisi" yang bersih dan stabil. Henning Gloystein, seorang analis dari Eurasia Group, menilai bahwa Asia saat ini berada dalam "persaingan harga penuh," di mana setiap negara yang memiliki opsi untuk beralih ke batu bara akan segera mengambil langkah tersebut. Insiden ini merupakan krisis besar kedua dalam kurun waktu lima tahun terakhir, setelah invasi Rusia ke Ukraina, yang membuat para importir semakin meragukan keandalan ketergantungan pada pasokan gas berbasis laut.

Di tengah kekacauan pasokan dari Timur Tengah, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Trump terlihat bergerak agresif dengan agenda "Dominasi Energi" mereka. Washington menawarkan LNG sebagai alternatif pasokan yang stabil, termasuk melalui proyek masif di Alaska, dengan tujuan menggantikan ketergantungan Asia pada Rusia dan Qatar. Namun, beberapa negara, seperti Pakistan, memilih jalur yang berbeda. Mereka mempercepat transisi ke energi surya secara masif, sebuah strategi untuk melindungi diri dari ketidakstabilan pasar global yang semakin tidak dapat diprediksi.

Kondisi ini menggarisbawahi kompleksitas tantangan energi global dan dilema yang dihadapi negara-negara Asia dalam menyeimbangkan kebutuhan energi mendesak dengan komitmen transisi hijau.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar