Ekonomi Syariah RI Cetak Rekor! Bos BI-OJK Ungkap Rahasia di Tengah Badai Global

Ekonomi Syariah RI Cetak Rekor! Bos BI-OJK Ungkap Rahasia di Tengah Badai Global

Haluannews Ekonomi – Sektor ekonomi dan keuangan syariah Indonesia menunjukkan performa luar biasa, mencatat ketahanan signifikan di tengah gejolak ketidakpastian global. Pencapaian ini diungkapkan langsung oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, dalam gelaran seminar Sharia Economic and Financial Outlook (ShEFO) 2026 di kantor pusat BI pada Jumat lalu (13/2/2026).

COLLABMEDIANET

Destry memaparkan bahwa pertumbuhan sektor ini selaras dengan proyeksi ekonomi nasional 2025 yang mencapai 5,11% (yoy). Khususnya, sektor Halal Value Chain (HVC) menjadi motor penggerak utama dengan pertumbuhan impresif 6,2% (yoy). Kontribusi HVC terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pun melonjak 155 basis poin, dari 25,45% pada 2024 menjadi 27% pada 2025, ditopang oleh kinerja gemilang di segmen makanan dan minuman halal, pariwisata ramah muslim, serta modest fashion.

Ekonomi Syariah RI Cetak Rekor! Bos BI-OJK Ungkap Rahasia di Tengah Badai Global
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dari sisi keuangan, pembiayaan perbankan syariah mencatat pertumbuhan 9,66% (yoy) hingga akhir 2025. Kinerja ini didukung oleh Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) Syariah senilai Rp35 triliun, yang telah mencapai 4,49% dari batas 5,5% per Desember 2025. Selain itu, berbagai program akselerasi turut berperan, termasuk Bulan Pembiayaan Syariah 2025 yang berhasil merealisasikan Rp939 miliar, melampaui target Rp589 miliar atau 60% di atas ekspektasi.

"Capaian ini adalah bukti nyata daya tahan dan kontribusi signifikan sektor syariah terhadap stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional," tegas Destry dalam forum tersebut.

Indikator positif juga terlihat dari peningkatan pemanfaatan instrumen lindung nilai syariah yang melonjak 86,5% (yoy) menjadi US$466 juta. Di sektor keuangan sosial, penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) melalui BAZNAS hingga Triwulan II-2025 mencapai Rp52,5 triliun, atau naik 43% (ytd) dibandingkan 2024 yang sebesar Rp36,8 triliun. Inovasi pembiayaan campuran melalui Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) juga tidak kalah cemerlang, tumbuh 22% (yoy) dengan outstanding akhir 2025 mencapai Rp1,4 triliun.

Destry menambahkan, peningkatan kinerja ini tak lepas dari penguatan literasi ekonomi dan keuangan syariah yang kini mencapai 50,18%, hampir dua kali lipat dibandingkan 2023. "Melalui implementasi Blueprint Eksyar 2030 yang berfokus pada penguatan rantai nilai halal, optimalisasi pembiayaan, serta perluasan literasi dan inklusi, BI bersama OJK dan seluruh pemangku kepentingan berkomitmen mempercepat transformasi sektor syariah sebagai pilar pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya tahan," jelasnya.

Senada dengan BI, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae, menyampaikan bahwa industri perbankan syariah menorehkan kinerja membanggakan sepanjang 2025. Total aset mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, menembus Rp1.067,73 triliun atau tumbuh 8,92% (yoy). Sisi pembiayaan juga menunjukkan tren positif dengan nilai mencapai Rp705,22 triliun atau tumbuh 9,58% (yoy).

Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tidak ketinggalan, mencapai Rp892,99 triliun atau tumbuh 10,14% (yoy). OJK optimistis tren positif ini akan berlanjut pada 2026, seiring prospek pertumbuhan ekonomi nasional, meskipun tetap mewaspadai risiko geopolitik dan ketidakpastian global. "Momentum ini menjadi modal penting untuk membangun industri perbankan syariah yang semakin resilient dan sustain," kata Dian.

Pada kesempatan yang sama, Bank Indonesia turut meluncurkan Bulan Pembiayaan Syariah (BPS) 2026. Program ini dirancang sebagai wadah kolaborasi strategis lintas kementerian, lembaga, dan industri keuangan syariah untuk memperkuat akses pembiayaan sektor riil.

Kick-Off BPS 2026 ditandai dengan penandatanganan komitmen sinergi bersama 10 kementerian/lembaga, meliputi Bank Indonesia, KNEKS, OJK, Kementerian Pariwisata, Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Koperasi, Kementerian UMKM, Kementerian Agama, Kementerian Perdagangan, serta Kementerian ATR/BPN. Tahun ini, BPS diperkuat untuk menjangkau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), start-up, dan industri halal melalui pelibatan perbankan syariah, Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) syariah, serta sektor keuangan sosial syariah, didukung optimalisasi platform digital business matching. BI berharap BPS dapat memperkuat keterhubungan antara sektor riil dengan pembiayaan komersial dan sosial syariah guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih inklusif dan berdaya saing, demikian laporan Haluannews.id.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar