Dunia Terancam Resesi Energi, Timur Tengah Pangkas Minyak!

Dunia Terancam Resesi Energi, Timur Tengah Pangkas Minyak!

Haluannews Ekonomi – Jakarta – Empat produsen minyak terbesar di Timur Tengah, meliputi Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, secara serentak memangkas volume produksi minyak mentah mereka hingga total 6,7 juta barel per hari. Keputusan drastis ini diambil di tengah eskalasi konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat yang kini memasuki pekan kedua, menciptakan ketidakpastian besar di pasar energi global.

COLLABMEDIANET

Menurut laporan dari The Edge Malaysia, memanasnya tensi regional telah mengakibatkan penutupan jalur ekspor krusial di wilayah tersebut. Akibatnya, kapasitas penyimpanan minyak mulai mencapai batas maksimal, memaksa negara-negara tersebut untuk mengurangi laju produksi. Kondisi ini secara langsung memicu disrupsi signifikan pada rantai pasok energi di seluruh dunia.

Dunia Terancam Resesi Energi, Timur Tengah Pangkas Minyak!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Amin Nasser, Chief Executive Officer (CEO) Saudi Aramco, dalam presentasi kinerja perusahaannya kepada para investor, menegaskan bahwa krisis yang sedang berlangsung ini adalah tantangan terbesar yang pernah dihadapi oleh industri minyak dan gas di kawasan Timur Tengah.

Nasser menjelaskan bahwa langkah pemangkasan produksi oleh keempat negara tersebut merupakan respons pasokan paling konkret yang terlihat sejak awal konflik. Secara agregat, volume produksi gabungan dari negara-negara ini telah menyusut hingga sepertiga dari kapasitas normal mereka sebelum krisis.

Gejolak pasar dan terhentinya aktivitas ekspor sempat memicu lonjakan harga minyak mentah global, mendekati level US$120 per barel pada hari Senin. Namun, optimisme pasar kembali muncul dan harga sedikit terkoreksi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengindikasikan bahwa konflik tersebut berpotensi segera mereda.

Secara lebih spesifik, rincian pemangkasan produksi menunjukkan Arab Saudi mengurangi output sekitar 2 juta hingga 2,5 juta barel per hari. Uni Emirat Arab memangkas antara 500.000 hingga 800.000 barel per hari, sedangkan Kuwait menurunkan sekitar 500.000 barel per hari. Irak menjadi negara dengan pemangkasan terbesar, mencapai sekitar 2,9 juta barel per hari.

Nasser juga menyoroti bahwa disrupsi ini telah memicu efek domino yang meluas ke berbagai sektor ekonomi global, mulai dari logistik pengiriman dan asuransi, hingga industri penerbangan, pertanian, dan otomotif. Ia memperingatkan bahwa jika gangguan ini berlanjut dalam jangka waktu yang lebih lama, dampaknya terhadap pasar minyak global dan perekonomian dunia secara keseluruhan akan semakin parah.

Dalam kesempatan yang sama, Nasser memilih untuk tidak memberikan komentar langsung mengenai tingkat produksi terbaru perusahaannya. Namun, data yang tersedia mengindikasikan bahwa Irak mengalami pemangkasan produksi terbesar secara proporsional, mencapai hampir 60% dari kapasitas normalnya.

Sementara itu, pemotongan produksi oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait masing-masing setara dengan sekitar 20% hingga 25% dari tingkat produksi mereka pada bulan Februari. Informasi ini dihimpun oleh Bloomberg dari sumber-sumber yang memiliki pengetahuan mendalam tentang kebijakan produksi negara-negara tersebut.

Lebih lanjut, Nasser menekankan bahwa cadangan minyak global saat ini berada pada level terendah dalam lima tahun terakhir. Dengan berlanjutnya krisis geopolitik, diperkirakan cadangan strategis ini akan terkuras dengan laju yang lebih cepat, menambah tekanan pada pasokan global.

Ia juga menggarisbawahi fakta bahwa sebagian besar kapasitas produksi cadangan minyak dunia terkonsentrasi di kawasan Timur Tengah. Oleh karena itu, kelancaran dan keamanan pengiriman melalui Selat Hormuz menjadi faktor yang sangat krusial untuk menjaga stabilitas pasar energi global.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar