Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi pertama perdagangan Senin ini dengan catatan merah, terbebani oleh dominasi tekanan jual yang tak kunjung mereda. Indeks acuan pasar modal Indonesia tersebut parkir di level 6.971,01, terkoreksi 0,79% dari posisi penutupan sebelumnya.

Related Post
Sejak pembukaan, IHSG memang sudah menunjukkan sinyal pelemahan, bahkan sempat menyentuh koreksi lebih dari 1% pada pergerakan intraday-nya. Sempat berupaya bangkit ke level 7.009,23, namun tekanan jual kembali menyeretnya hingga titik terendah 6.934,89. Fluktuasi tajam ini mengindikasikan tingginya volatilitas pasar di tengah sentimen negatif yang membayangi.

Aktivitas perdagangan pada sesi pertama mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp8,47 triliun. Sebanyak 16,74 miliar saham berpindah tangan melalui 1,02 juta kali frekuensi transaksi. Sementara itu, kapitalisasi pasar bursa tercatat mencapai Rp12.146 triliun.
Analisis dari Haluannews.id menunjukkan bahwa saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi penekan utama IHSG dengan sumbangan koreksi mencapai -20,73 poin. Disusul ketat oleh PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang berkontribusi -19,55 poin, serta PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan -9,37 poin.
Koreksi tajam pada kedua saham tersebut memang signifikan, di mana DSSA anjlok 8,35% dan BREN merosot 11,04%. Perlu dicatat, baik DSSA maupun BREN masuk dalam daftar emiten dengan High Shareholding Concentration (HSC) atau konsentrasi kepemilikan saham tinggi. Pembukaan data terkait HSC oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) disinyalir turut memengaruhi pergerakan saham-saham ini.
Di luar faktor domestik, pergerakan IHSG juga tak lepas dari bayang-bayang sentimen global. Ketegangan geopolitik kembali memanas menyusul pernyataan kontroversial Presiden AS Donald Trump di media sosial. Trump mengancam akan melumpuhkan infrastruktur vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, jika Teheran gagal membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran global pada batas waktu yang ditentukan. Meskipun sempat mengulang ancaman "neraka", Trump juga menyebut ada "peluang besar" untuk mencapai kesepakatan. Namun, Iran merespons ancaman tersebut dengan sinis, menyebutnya sebagai "tindakan putus asa, gugup, dan bodoh". Eskalasi ini terjadi setelah Trump mengklaim keberhasilan penyelamatan awak jet tempur AS yang ditembak jatuh di wilayah Iran.
Dari ranah domestik, perhatian investor tertuju pada konferensi pers pemerintah yang dijadwalkan pukul 13.30 WIB. Agenda utama adalah pembahasan kebijakan transportasi dan Bahan Bakar Minyak (BBM), yang dampaknya sangat dinantikan oleh masyarakat luas. Hingga saat ini, pemerintah masih berupaya menjaga stabilitas ekonomi dengan belum mengindikasikan kenaikan harga BBM. Sejumlah pejabat tinggi negara dijadwalkan hadir, antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Sekretaris Negara, Menteri Keuangan, Menteri Perhubungan, dan Sekretaris Kabinet.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar