Haluannews Ekonomi – Pasar modal Indonesia dikejutkan oleh pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berbalik arah pada penutupan sesi pertama perdagangan Kamis, 19 Februari 2026. Setelah sempat menunjukkan performa impresif di awal, IHSG akhirnya terpaksa parkir di zona merah, merosot 21,15 poin atau setara 0,25%, untuk mengakhiri sesi di level 8.289,08.

Related Post
Data perdagangan Haluannews.id mencatat, total nilai transaksi pada sesi ini mencapai Rp 16,41 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 34,67 miliar saham yang berpindah tangan melalui 2,13 juta kali transaksi. Sayangnya, kapitalisasi pasar ikut tergerus, menyusut menjadi Rp 15.007 triliun. Distribusi saham menunjukkan dominasi tekanan jual, dengan 369 saham mengalami penurunan, sementara 308 saham berhasil menguat, dan 281 saham stagnan. Pergerakan IHSG sepanjang sesi pagi sempat menyentuh level tertinggi 8.376,2 sebelum akhirnya tergelincir ke titik terendah 8.282,08.

Penurunan IHSG tak lepas dari tekanan signifikan pada beberapa sektor kunci. Sektor properti menjadi yang paling terpukul dengan koreksi 1,24%, diikuti sektor finansial yang anjlok 1,01%, dan sektor kesehatan yang juga melemah 0,65%. Kontribusi negatif terbesar datang dari saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big caps). Bank Mandiri (BMRI) menjadi penekan utama dengan sumbangan -15,53 poin indeks, disusul Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan -4,72 poin, dan Bank Central Asia (BBCA) yang turut menyumbang -2,37 poin. Selain raksasa perbankan, saham DCI Indonesia (DCII) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) juga memberikan beban berat, masing-masing sebesar -14,62 poin dan -9,56 poin terhadap indeks.
Dinamika pasar hari ini dipengaruhi kuat oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Investor tengah mencerna hasil risalah Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed yang dirilis semalam, sembari menanti dengan cemas keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) yang dijadwalkan hari ini. Kekhawatiran juga muncul menyusul rilis data utang luar negeri yang menunjukkan kenaikan kemarin, serta pelemahan lanjutan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS, menambah tekanan pada pasar keuangan domestik.
Dari kancah global, risalah pertemuan FOMC The Fed akhir Januari yang dirilis Rabu lalu menunjukkan konsensus untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan Februari. Namun, terjadi perpecahan pandangan di antara para pembuat kebijakan mengenai langkah selanjutnya: sebagian terbuka untuk kenaikan suku bunga jika inflasi persisten, sementara yang lain condong ke arah penurunan jika inflasi mereda. Menariknya, diskusi juga menyentuh implikasi kecerdasan buatan (AI) terhadap perekonomian. Perbedaan pendapat ini menyoroti tantangan bagi calon pengganti Ketua Fed Jerome Powell, Kevin Warsh, dalam membangun konsensus untuk kebijakan moneter ke depan.
Kontras dengan IHSG, sebagian besar bursa regional Asia justru menunjukkan performa positif. Indeks Kospi Korea Selatan bahkan mencetak rekor tertinggi baru, melonjak 2,76%, didorong oleh penguatan saham-saham teknologi raksasa seperti Samsung Electronics (+4,14%) dan SK Hynix (+1,48%). Indeks Kosdaq juga naik 0,59%. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 menguat 1,1%, sementara di Jepang, Nikkei 225 bertambah 0,52% dan Topix naik 0,39%. Namun, pasar di Hong Kong dan Tiongkok daratan masih libur merayakan Tahun Baru Imlek.
Sentimen positif juga datang dari Wall Street. Indeks S&P 500 AS ditutup menguat 0,56% ke level 6.881,31, didukung oleh saham-saham teknologi dan respons terhadap risalah The Fed. Nasdaq Composite juga melesat 0,78% ke 22.753,63, sementara Dow Jones Industrial Average naik tipis 0,26% dan berakhir di 49.662,66.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar