Haluannews Ekonomi – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) baru saja merilis hasil survei terbarunya yang memberikan gambaran menarik mengenai perilaku konsumen Indonesia. Indeks Menabung Konsumen (IMK) pada September 2025 menunjukkan penurunan ke level 77,3, mengindikasikan adanya perubahan prioritas keuangan di kalangan masyarakat.

Related Post
Penurunan IMK ini sejalan dengan melemahnya Indeks Intensitas Menabung (IIM) yang merosot 3,6 poin menjadi 67,1. Data ini mengisyaratkan bahwa masyarakat cenderung menabung lebih sedikit dari yang direncanakan. Survei mencatat peningkatan proporsi responden yang mengaku jumlah tabungannya lebih kecil dari target, naik dari 47,5% menjadi 54,4%.

Meskipun demikian, ada secercah harapan. Persentase responden yang menilai saat ini adalah waktu yang tepat untuk menabung justru meningkat menjadi 26,1%. Bahkan, ekspektasi untuk menabung dalam tiga bulan mendatang juga mengalami kenaikan, mencapai 35,8%.
Direktur Group Riset LPS, Seto Wardono, menjelaskan bahwa penurunan intensitas menabung ini dipicu oleh meningkatnya pengeluaran rumah tangga, terutama untuk biaya pendidikan di tahun ajaran baru. Namun, ia menegaskan bahwa niat menabung masyarakat secara umum masih terjaga.
Survei LPS juga menyoroti adanya penurunan IMK pada beberapa kelompok pendapatan. Penurunan terdalam terjadi pada kelompok rumah tangga berpendapatan Rp1,5 juta hingga Rp3 juta per bulan. Sementara itu, kelompok berpendapatan di atas Rp7 juta per bulan masih menunjukkan IMK di atas 100, menandakan kemampuan menabung yang relatif stabil.
Selain IMK, LPS juga mengukur Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK). Pada September 2025, IKK tercatat sebesar 90,5, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh kenaikan harga kebutuhan pokok dan kondisi lapangan kerja yang menantang. Faktor lain seperti gagal panen dan mahalnya harga pupuk juga turut berkontribusi terhadap penurunan IKK.
Secara keseluruhan, survei LPS memberikan gambaran bahwa masyarakat Indonesia saat ini menghadapi tantangan dalam mengelola keuangan. Kenaikan pengeluaran dan ketidakpastian ekonomi membuat intensitas menabung menurun. Meskipun demikian, niat untuk menabung tetap ada, menunjukkan harapan akan perbaikan kondisi ekonomi di masa depan.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar