Haluannews Ekonomi – Rupiah membuka perdagangan hari ini, Kamis (26/2/2024), dengan performa impresif, menunjukkan penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data terkini dari Refinitiv yang dihimpun Haluannews.id, mata uang Garuda langsung tancap gas di zona hijau, melonjak 0,36% ke posisi Rp16.720 per dolar AS. Kinerja positif ini melanjutkan momentum apik dari perdagangan sebelumnya, Rabu (25/2/2024), di mana rupiah sukses ditutup menguat 0,21% dan berhasil bertahan di level Rp16.780 per dolar AS.

Related Post
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau merana pada pukul 09.00 WIB. DXY tercatat melemah 0,19% ke level 97,512, memperpanjang tren koreksi yang sudah dimulai sejak perdagangan kemarin dengan penurunan 0,15%. Pelemahan DXY ini menjadi sinyal kuat aksi jual dolar AS di pasar global, membuka ruang bagi mata uang lain, termasuk rupiah, untuk unjuk gigi.

Analis pasar memprediksi bahwa pergerakan rupiah hari ini akan sangat dipengaruhi oleh dinamika dolar AS di kancah global. Penurunan DXY secara jelas mengindikasikan bahwa para pelaku pasar sedang melakukan aksi jual terhadap aset-aset berdenominasi dolar AS, sebuah kondisi yang secara langsung memberikan angin segar bagi penguatan mata uang negara-negara berkembang.
Ketidakpastian global masih menjadi sorotan utama. Pernyataan Presiden Donald Trump yang kembali menegaskan komitmennya terhadap kebijakan tarif dalam pidato State of the Union terus menciptakan volatilitas di pasar perdagangan internasional, yang pada gilirannya turut memengaruhi pergerakan dolar AS. Sementara itu, dari ranah kebijakan moneter, komentar dari Presiden Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) St. Louis, Alberto Musalem, cenderung bernada netral. Musalem menilai suku bunga acuan saat ini berada di level yang seimbang, cukup ideal untuk menyeimbangkan risiko inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja. Pelaku pasar juga masih melihat peluang pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) The Fed pada 17-18 Maret mendatang sebagai sangat kecil, hanya sekitar 2%.
Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, pelemahan dolar AS secara keseluruhan menjadi sentimen positif yang signifikan bagi pergerakan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah, pada sesi perdagangan hari ini.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar