Dolar AS Terkapar di Rp16.855! Rupiah Menggila, Ada Apa?

Dolar AS Terkapar di Rp16.855! Rupiah Menggila, Ada Apa?

Haluannews Ekonomi – Pasar keuangan domestik membuka pekan perdagangan dengan sinyal positif, di mana nilai tukar rupiah menunjukkan performa impresif terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Refinitiv yang dihimpun Haluannews.id, pada pembukaan sesi Senin (23/2/2026), mata uang Garuda langsung terapresiasi 0,03%, menempatkan posisinya di level Rp16.855 per dolar AS.

COLLABMEDIANET

Tren penguatan ini bukan hal baru, melanjutkan momentum positif dari penutupan pekan lalu, di mana rupiah juga mencatat apresiasi tipis 0,06% di level Rp16.860 per dolar AS. Pada saat yang sama, Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama lainnya, terpantau anjlok signifikan 0,40% ke level 97,404 pada pukul 09.00 WIB, memberikan ruang gerak bagi mata uang regional.

Dolar AS Terkapar di Rp16.855! Rupiah Menggila, Ada Apa?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Apresiasi rupiah pada awal pekan ini tak lepas dari tekanan jual yang melanda dolar AS di pasar global. Pelemahan DXY secara fundamental mencerminkan pergeseran sentimen investor yang cenderung melepas aset berdenominasi dolar, mencari alternatif investasi di mata uang lain yang menawarkan potensi keuntungan lebih menarik, termasuk rupiah.

Namun, dinamika pasar global juga diwarnai oleh kompleksitas kebijakan tarif AS. Keputusan Mahkamah Agung AS yang menyatakan sebagian besar tarif yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump melampaui kewenangannya, telah menciptakan lapisan ketidakpastian baru.

Pelaku pasar kini mencermati dengan saksama respons lanjutan dari Gedung Putih. Potensi pengenaan tarif umum sebesar 15% atas impor, serta upaya mempertahankan kesepakatan tarif yang lebih tinggi dengan mitra dagang, berpotensi signifikan menggeser prospek pertumbuhan ekonomi di luar AS. Kondisi ini tak hanya menambah ketidakpastian arah fiskal AS, tetapi juga memicu volatilitas kebijakan yang lebih tinggi di masa mendatang.

Beralih ke ranah domestik, sorotan investor tertuju pada rilis APBN KiTa Edisi Februari 2026. Dokumen ini akan memaparkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per Januari 2026, yang dijadwalkan akan diumumkan dalam konferensi pers pada pukul 10.00 WIB, dipimpin langsung oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Rilis APBN KiTa berfungsi sebagai barometer awal untuk mengukur arah kebijakan fiskal pemerintah di awal tahun. Informasi yang terkandung di dalamnya meliputi kinerja pendapatan negara, realisasi belanja pemerintah, serta proyeksi kebutuhan pembiayaan.

Perhatian khusus investor akan tertuju pada dinamika defisit anggaran di awal 2026. Mengingat pada penutupan tahun 2025, defisit APBN tercatat mencapai Rp695,1 triliun, atau setara 2,92% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi dibandingkan defisit tahun 2024 yang berada di kisaran 2,3% dari PDB, memicu pertanyaan mengenai tren fiskal ke depan.

Bagi pelaku pasar, arah defisit dan strategi pembiayaan pemerintah memiliki implikasi krusial. Ini akan memengaruhi ekspektasi terhadap penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), pergerakan imbal hasil obligasi, serta secara langsung berdampak pada sentimen dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar