Dolar AS Terjun Bebas! Rupiah Berjaya di Rp16.780

Dolar AS Terjun Bebas! Rupiah Berjaya di Rp16.780

Haluannews Ekonomi – Jakarta – Mata uang Garuda menunjukkan kekuatannya di sesi penutupan perdagangan hari Rabu, 25 Februari 2026, dengan berhasil menguat signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Performa positif ini membalikkan arah setelah sempat tertekan di awal sesi.

COLLABMEDIANET

Berdasarkan data terkini dari Refinitiv, rupiah menutup hari di level Rp16.780 per dolar AS, mencatatkan apresiasi sebesar 0,21%. Pencapaian ini menjadi pembalikan yang menarik, mengingat pada pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah sempat dibuka melemah tipis 0,03% di posisi Rp16.820 per dolar AS.

Dolar AS Terjun Bebas! Rupiah Berjaya di Rp16.780
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sepanjang hari perdagangan, rupiah bergerak cukup volatil, mencatat rentang pergerakan antara Rp16.845 hingga Rp16.780 per dolar AS. Dinamika ini menunjukkan adanya tarik-menarik kuat antara sentimen positif dan negatif di pasar.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mencerminkan kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, juga terpantau berada di zona merah pada pukul 15.00 WIB. Indeks tersebut melemah 0,17% ke level 97,679, menandakan tekanan terhadap mata uang Paman Sam di pasar global.

Penguatan rupiah hari ini sejalan dengan pelemahan dolar AS di pasar internasional. Pelemahan greenback terjadi setelah pidato kenegaraan (State of the Union) Presiden AS Donald Trump tidak memberikan indikasi perubahan signifikan pada kebijakan tarifnya. Ketidakjelasan ini membuat pasar merespons dengan koreksi pada dolar.

Di sisi lain, AS telah mulai menerapkan tarif global sementara sebesar 10% sejak Selasa lalu, dengan potensi kenaikan menjadi 15% menyusul pembatalan tarif resiprokal Trump sebelumnya oleh Mahkamah Agung AS. Kebijakan ini turut membebani sentimen terhadap dolar, karena berpotensi memicu ketidakpastian ekonomi global.

Dari ranah kebijakan moneter, para pelaku pasar juga mencermati pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS (The Fed) yang mengindikasikan bahwa suku bunga acuan masih layak dipertahankan. Hal ini didasari oleh perbaikan di pasar tenaga kerja, meskipun risiko inflasi belum sepenuhnya mereda.

Meskipun demikian, ekspektasi pasar terhadap potensi pemangkasan suku bunga The Fed pada tahun ini masih cukup kuat, sehingga tekanan terhadap dolar AS diperkirakan belum akan hilang sepenuhnya. Koreksi nilai dolar AS inilah yang pada akhirnya membuka ruang bagi penguatan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah, yang berhasil menutup perdagangan hari ini di zona hijau, sebagaimana dilaporkan oleh Haluannews.id.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar