Haluannews Ekonomi – Pasar keuangan Jakarta pada Kamis (19/2/2026) pagi menunjukkan pergerakan yang kurang menguntungkan bagi mata uang Garuda. Nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS), mencatatkan depresiasi 0,03% ke level Rp16.880/US$. Kondisi ini melanjutkan tren pelemahan sehari sebelumnya, di mana rupiah ditutup di posisi Rp16.875/US$ dengan depresiasi 0,30%.

Related Post
Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau sedikit melandai 0,01% ke 97,692. Namun, perlu dicatat bahwa secara fundamental, dolar AS masih menunjukkan kekuatan yang signifikan, terutama setelah menguat tajam 0,56% ke 97,703 pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan dinamika domestik. Dari ranah global, dominasi penguatan dolar AS pada sesi sebelumnya menjadi beban berat bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sentimen penguatan dolar AS ini tak lepas dari risalah pertemuan Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) yang baru dirilis. Risalah tersebut mengindikasikan bahwa para pembuat kebijakan hampir bulat sepakat untuk menahan suku bunga. Namun, perbedaan pandangan masih mencuat terkait langkah kebijakan moneter berikutnya. Beberapa pejabat masih membuka opsi kenaikan suku bunga jika inflasi kembali memanas, sementara pihak lain melihat potensi pemangkasan suku bunga apabila tekanan harga mereda. Ekspektasi pasar, berdasarkan CME FedWatch Tool, cenderung menempatkan peluang pemangkasan suku bunga baru akan menguat mulai pertemuan Juni. Selain itu, ketidakpastian geopolitik, seperti perkembangan pembicaraan nuklir AS dan Iran yang belum mencapai kesepakatan final, turut menambah daftar kekhawatiran investor.
Di sisi domestik, seluruh mata tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang akan mengumumkan keputusan suku bunga acuan hari ini. Konsensus yang dihimpun Haluannews.id dari 12 lembaga/institusi menunjukkan proyeksi yang solid: BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di level 4,75%.
Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menegaskan bahwa keputusan menahan suku bunga merupakan opsi paling realistis di tengah volatilitas pasar global dan meningkatnya tensi geopolitik. "Kemungkinan BI menahan suku bunga ini sejalan dengan upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian pasar global dan meningkatnya tensi geopolitik," ujar Juniman kepada Haluannews.id pada Rabu (18/2/2026).
Meski demikian, Juniman juga melihat adanya ruang bagi BI untuk melonggarkan kebijakan moneter di masa mendatang, mengingat tekanan inflasi domestik yang relatif terkendali. "Inflasi Januari 2026 tercatat 3,55% secara tahunan (year on year/yoy), naik dari 2,92% pada bulan sebelumnya. Di sisi lain, pelonggaran suku bunga juga dapat menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi domestik," pungkas Juniman.
Dengan demikian, keputusan BI hari ini akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah ke depan, di tengah tekanan global yang masih membayangi.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar