Haluannews Ekonomi – Jakarta – Kinerja nilai tukar rupiah harus menghadapi tekanan di awal perdagangan pagi ini, Kamis (12/2/2026), dengan posisi yang melemah signifikan di hadapan mata uang Paman Sam. Kondisi ini mengejutkan pasar setelah rupiah sempat menikmati tren penguatan.

Related Post
Berdasarkan pantauan data Refinitiv, mata uang Garuda memulai sesi perdagangan dengan terdepresiasi tipis 0,06%, menempatkannya di level Rp16.785 per dolar AS. Kondisi ini memutus tren positif yang sebelumnya dinikmati rupiah selama tiga hari berturut-turut, di mana pada penutupan perdagangan Rabu (11/2/2026), rupiah masih perkasa di Rp16.775 per dolar AS dengan apresiasi 0,09%.

Di sisi lain, dominasi dolar AS semakin terasa di pasar global. Indeks dolar AS (DXY), yang mencerminkan kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, terpantau menguat 0,02% ke level 96,852 pada pukul 09.00 WIB. Kenaikan ini melanjutkan momentum positif DXY yang telah mengakhiri perdagangan sebelumnya di posisi 96,834.
Analis pasar memprediksi pergerakan rupiah hari ini sangat rentan terhadap sentimen eksternal, khususnya fluktuasi dolar AS di kancah global. Penguatan dolar AS kali ini dipicu oleh publikasi data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi pasar.
Menurut laporan terkini dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS, perekonomian Negeri Paman Sam berhasil menciptakan 130.000 lapangan kerja baru di sektor non-pertanian (nonfarm payrolls/NFP) sepanjang Januari 2026. Angka ini jauh melampaui proyeksi konsensus pasar yang hanya memperkirakan penambahan 70.000 pekerjaan, bahkan jauh di atas revisi data Desember yang tercatat 48.000 pekerjaan.
Sektor perawatan kesehatan, bantuan sosial, dan konstruksi menjadi penyumbang terbesar dalam penyerapan tenaga kerja. Sebaliknya, sektor keuangan dan pemerintahan justru mengalami kontraksi dalam jumlah pekerja.
Implikasi positif dari lonjakan penciptaan lapangan kerja ini juga terlihat pada perbaikan tingkat pengangguran AS. Angka pengangguran berhasil ditekan tipis menjadi 4,3% pada Januari 2026, lebih rendah dari 4,4% di bulan Desember dan melampaui perkiraan pasar.
Rangkaian data ekonomi yang solid ini semakin mempertegas pandangan bahwa fundamental ekonomi AS tetap tangguh, memicu investor untuk kembali mengalihkan modalnya ke aset-aset berdenominasi dolar. Fenomena ini secara langsung memberikan sokongan kuat bagi greenback, sekaligus menciptakan tekanan signifikan pada mata uang negara-negara berkembang, tak terkecuali rupiah.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar