Defisit APBN Mengancam? IHSG Tetap Hijau, Ini Pemicunya!

Defisit APBN Mengancam? IHSG Tetap Hijau, Ini Pemicunya!

Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan hari Kamis (8/1/2026) dengan sedikit penguatan, menembus zona hijau meskipun tipis. Indeks tercatat naik 1,88 poin atau 0,02%, bertengger di level 8.946,70. Aktivitas pasar pagi ini menunjukkan 279 saham menguat, 82 melemah, dan 289 lainnya stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp 466,66 miliar, melibatkan 679,67 juta saham dalam 90.333 kali transaksi. Kapitalisasi pasar tercatat impresif di angka Rp 16.355 triliun, hampir menyentuh ambang US$ 1 triliun.

COLLABMEDIANET

Penguatan tipis IHSG ini terjadi di tengah sentimen pasar yang kompleks, baik dari dalam maupun luar negeri. Fokus utama pelaku pasar hari ini tertuju pada dinamika ekonomi domestik, khususnya realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun anggaran 2025. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dijadwalkan akan menggelar konferensi pers APBN KiTa Edisi Januari 2026 pada Kamis, 8 Januari 2026 pukul 13.30 WIB. Paparan ini akan mengupas tuntas kinerja APBN sepanjang 2025, mencakup sisi belanja, pendapatan, hingga defisit.

Defisit APBN Mengancam? IHSG Tetap Hijau, Ini Pemicunya!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sorotan terbesar ada pada potensi pembengkakan defisit APBN dari target yang ditetapkan. Realisasi pendapatan negara juga menjadi krusial, mengingat kemampuannya dalam mengumpulkan penerimaan di tengah perlambatan ekonomi nasional dan global. Pasar menanti seberapa besar shortfall pajak yang terjadi di tahun 2025. Sementara itu, realisasi belanja, terutama untuk program prioritas seperti Makanan Bergizi Gratis (MBG) serta subsidi dan bantuan sosial, juga akan menjadi perhatian. Investor juga akan mencermati realisasi pembiayaan utang selama 2025 dan dampaknya terhadap defisit. Sebagai informasi, defisit APBN per November 2025 tercatat Rp 560,3 triliun atau 2,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), mendekati target 2,48% dari PDB.

Di kancah global, pasar Asia-Pasifik bergerak bervariasi pada Kamis pagi, menyusul penutupan Wall Street yang merosot akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dan pernyataan kontroversial dari Presiden AS Donald Trump. Saham-saham sektor pertahanan AS anjlok setelah Presiden Trump menyatakan tidak akan mengizinkan perusahaan-perusahaan tersebut menerbitkan dividen atau pembelian kembali saham hingga mereka menyelesaikan isu-isu internal seperti paket gaji eksekutif dan masalah produksi.

Harga minyak juga mengalami penurunan semalam setelah Trump mengumumkan bahwa otoritas sementara Venezuela akan menyerahkan sekitar 50 juta barel minyak mentah ke AS. Pernyataan ini memicu kekhawatiran akan peningkatan pasokan global. Kontrak minyak mentah Brent terpantau turun 0,51% menjadi US$60,39 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS justru naik 0,61% menjadi US$56,33 per barel pagi ini.

Melihat pergerakan indeks regional, Nikkei 225 Jepang dibuka 0,46% lebih rendah, diikuti oleh indeks Topix yang turun 0,27%. Sebaliknya, Kospi Korea Selatan naik 0,12%, dan indeks Kosdaq untuk perusahaan berkapitalisasi kecil juga menguat 0,1%. Indeks ASX/S&P 200 Australia mencatat kenaikan 0,21%, meskipun saham BlueScope Steel anjlok 2,54% setelah menolak tawaran pengambilalihan senilai US$9 miliar. Indeks Hang Seng Hong Kong diperkirakan dibuka lebih rendah, dengan kontrak berjangka diperdagangkan pada 26.348, di bawah penutupan sebelumnya di 26.458,95.

Semalam di Amerika Serikat, indeks S&P 500 turun sekitar 0,3%, sementara Dow Jones Industrial Average merosot 466 poin atau sekitar 0,9%. Berbeda dengan keduanya, indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi justru naik hampir 0,2%, didukung oleh lonjakan 2,4% pada saham Alphabet, perusahaan induk Google, yang menyebabkan kapitalisasi pasar perusahaan tersebut melampaui Apple untuk pertama kalinya sejak 2019. Dinamika pasar global yang bervariasi ini menunjukkan kehati-hatian investor dalam menyikapi berbagai sentimen yang ada.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar