Haluannews Ekonomi – Perbankan di Indonesia menunjukkan geliat positif dengan semakin agresifnya penyaluran kredit, sebuah tren yang beriringan dengan penurunan suku bunga pinjaman. Fenomena ini terjadi seiring penyesuaian terhadap kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang telah berangsur turun sejak periode tertentu.

Related Post
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam pernyataannya baru-baru ini, mengungkapkan bahwa suku bunga pinjaman atau lending rate untuk kredit baru telah mengalami penurunan signifikan hingga 88 basis poin. Angka ini, menurut Destry, merupakan indikasi kuat bahwa sektor perbankan kini dalam posisi siap untuk mengucurkan pembiayaan secara masif. "Sudah 88 basis poin dia turunnya. Artinya bank sudah mulai siap sebenarnya, untuk lending appetite-nya bank sudah mulai tinggi," ujar Destry dalam acara Peluncuran Buku Kajian Stabilitas Keuangan Nomor 46 di Jakarta.

Destry lebih lanjut menjelaskan bahwa kapasitas perbankan untuk mempercepat penyaluran kredit sesungguhnya masih sangat besar. Hal ini didukung oleh likuiditas yang teramat memadai dalam sistem keuangan nasional. Kondisi industri perbankan saat ini dinilai sangat sehat, tercermin dari rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) yang mencapai 27,6%. Selain itu, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level 25,9%, jauh melampaui ambang batas minimum 8% yang ditetapkan.
Untuk menjaga stabilitas dan mendorong fungsi intermediasi perbankan, BI juga telah mengimplementasikan insentif kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM). Insentif ini telah disalurkan kepada berbagai bank dengan total nilai mencapai Rp 427,5 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 357,9 triliun dialokasikan untuk saluran penyaluran kredit (lending channel), sementara Rp 69,6 triliun disalurkan melalui saluran suku bunga (interest channel). Destry menyoroti bahwa saluran suku bunga, yang baru diperkenalkan sekitar dua hingga tiga bulan terakhir, menunjukkan waktu yang tepat karena bank-bank mulai menurunkan suku bunga pinjaman mereka dalam periode tersebut.
Meskipun demikian, Destry mengakui bahwa kecepatan perbankan dalam menurunkan suku bunga pinjaman masih perlu ditingkatkan. Hal ini mengingat suku bunga acuan BI Rate telah dipangkas sebanyak 150 basis poin. Di sisi lain, kemampuan bank untuk menyalurkan kredit juga perlu didorong lebih lanjut, karena permintaan kredit dari masyarakat dan dunia usaha masih belum sepenuhnya optimal. Indikatornya terlihat dari angka fasilitas kredit yang belum terpakai atau undisbursed loan perbankan yang masih mencapai Rp 2.506 triliun, atau sekitar 22,65% dari total platform kredit yang tersedia.
"Jadi ini angka cukup besar. Nah ini yang tentunya perlu kita dorong sehingga dia akan menjadi nanti sumber bagi pertumbuhan ekonomi," pungkas Destry, menekankan pentingnya mengoptimalkan undisbursed loan sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar