Haluannews Ekonomi – Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, menegaskan urgensi intervensi pemerintah untuk mengakselerasi pertumbuhan industri keuangan syariah di Indonesia. Ia menyoroti Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai contoh nyata keberhasilan strategi konsolidasi. Pasca-merger dari BNI Syariah, Bank Mandiri Syariah, dan BRI Syariah, BSI kini berhasil menduduki peringkat keenam sebagai bank dengan aset terbesar di Indonesia, sebuah lompatan signifikan mengingat sebelumnya tak satu pun dari ketiga bank tersebut mampu menembus daftar 20 bank terbesar. Hal ini disampaikan Anggito dalam Sarasehan 99 Ekonom Syariah Indonesia 2026 di Jakarta, Selasa (24/2/2026), seperti yang dilaporkan Haluannews.id.

Related Post
Anggito menekankan bahwa skala besar dan permodalan kuat adalah prasyarat fundamental bagi bank untuk berekspansi secara optimal. "Jika sebuah bank membutuhkan ekspansi, ia memerlukan kapital yang memadai. Tanpa modal yang cukup, pertumbuhan akan terhambat," jelas Anggito. Ia menambahkan, pertumbuhan BSI yang pesat setelah merger membuktikan efektivitas pendekatan ini dalam menciptakan entitas perbankan yang lebih tangguh dan kompetitif.

Kehadiran BSI tidak hanya mengubah peta persaingan perbankan, tetapi juga secara signifikan mendongkrak pangsa pasar perbankan syariah nasional. Angka pangsa pasar yang sebelumnya hanya sekitar 6%, kini melonjak hingga 9% berkat kontribusi BSI yang masif dalam ekosistem keuangan syariah.
Selain BSI, industri keuangan syariah juga menyambut pemain baru yang potensial, yakni Bank Syariah Nasional (BSN), hasil merger Bank Victoria Syariah dengan unit usaha syariah (UUS) BTN. Dengan modal aset sekitar Rp 70 triliun, Anggito optimistis BSN juga akan menunjukkan pertumbuhan yang cepat, mengikuti jejak BSI. Oleh karena itu, Anggito mendesak pemerintah untuk kembali mengambil peran aktif dalam mendorong konsolidasi unit usaha syariah (UUS) milik bank pembangunan daerah (BPD). "Saya membayangkan, jika UUS BPD ini dimerger, asetnya bisa mencapai lebih dari Rp 100 triliun," ungkapnya, mengisyaratkan potensi lahirnya raksasa syariah baru yang mampu bersaing di kancah nasional.
Wakil Direktur BSI, Anggoro Eko Cahyo, turut mengamini bahwa ukuran dan kapitalisasi merupakan faktor krusial dalam industri perbankan modern. Ia menegaskan bahwa BSI telah menjadi ‘game changer’ bagi industri keuangan syariah, menunjukkan bahwa konsolidasi adalah jalan menuju kekuatan. Namun, Anggoro juga menyoroti tantangan utama yang masih dihadapi, yaitu literasi dan inklusi keuangan syariah. "Literasi keuangan syariah memang sudah meningkat menjadi 43%, namun inklusi hanya bergerak dari 12% menjadi 13,7% dalam tiga tahun terakhir," papar Anggoro, menunjukkan celah antara pemahaman dan pemanfaatan produk syariah yang perlu dijembatani lebih lanjut.
Editor: Rohman





Tinggalkan komentar