BI Pangkas Suku Bunga, Rupiah Aman? Ekonom Berbagi Pendapat!

BI Pangkas Suku Bunga, Rupiah Aman? Ekonom Berbagi Pendapat!

Haluannews Ekonomi – Kejutan datang dari Bank Indonesia (BI) di awal tahun ini. Di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI memutuskan memangkas suku bunga BI Rate 25 basis points (bps) menjadi 5,75%. Ini merupakan pemangkasan pertama di tahun 2025, setelah sebelumnya dilakukan pada September tahun lalu. Keputusan ini bertolak belakang dengan proyeksi sejumlah lembaga yang memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 6%.

COLLABMEDIANET

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa penurunan BI Rate selaras dengan strategi bank sentral yang menyeimbangkan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Ia menekankan bahwa keputusan ini didasarkan pada dinamika global dan domestik, termasuk arah kebijakan pemerintah AS dan Federal Fund Rate (FFR), inflasi domestik yang rendah, serta stabilitas nilai tukar rupiah yang dinilai sejalan dengan fundamentalnya. Perry juga menyinggung data survei ekonomi BI yang menunjukkan potensi pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah di tahun ini.

BI Pangkas Suku Bunga, Rupiah Aman? Ekonom Berbagi Pendapat!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Penurunan suku bunga ini tepat waktu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik," ungkap Perry dalam paparan hasil RDG BI, Rabu (15/1/2025).

Haluannews.id merangkum pandangan lima ekonom terkait keputusan kontroversial BI ini:

Satria melihat potensi risiko negatif terhadap rupiah pasca pemangkasan suku bunga. Ia khawatir kebijakan BI ini dapat mempersempit perbedaan imbal hasil antara Indonesia dan negara lain, sehingga menekan rupiah. Ia juga mempertanyakan timing pemangkasan mengingat potensi peningkatan permintaan dolar AS di masa mendatang.

"Pemangkasan suku bunga ini berisiko memicu aksi jual rupiah oleh investor," tegas Satria.

Berbeda dengan Satria, Hosianna menilai keputusan BI tepat guna menyeimbangkan pertumbuhan dan stabilitas, mengingat inflasi 2024 yang terkendali. Ia melihat ruang bagi penurunan suku bunga dan menekankan perlunya kebijakan moneter yang fleksibel untuk mendukung pertumbuhan kredit.

Myrdal mengaku tak terkejut dengan keputusan BI. Ia bahkan telah menyarankan penurunan BI Rate beberapa bulan lalu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, gap yang lebar antara BI Rate dan inflasi memberikan ruang yang cukup untuk penurunan suku bunga.

"Penurunan BI Rate sangat diperlukan sebagai sinergi kebijakan fiskal dan moneter," tegas Myrdal.

Banjaran mengakui kejutan atas timing pemangkasan BI Rate, mengingat tekanan pada surat berharga domestik. Meskipun ia melihat adanya ruang penurunan mengingat selisih antara Fed Rate dan BI Rate, ia tetap menyoroti faktor kejutan tersebut.

David, ekonom lainnya, juga tak menduga pemangkasan BI Rate. Ia memahami perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi, namun tetap menyoroti tekanan pada nilai tukar rupiah. Ia melihat upaya BI menjaga daya tarik rupiah melalui instrumen SRBI.

Keputusan BI ini memicu beragam reaksi dan analisis dari para ekonom, menunjukkan kompleksitas situasi ekonomi saat ini dan beragam perspektif dalam menyikapi kebijakan moneter. Perdebatan mengenai dampak jangka panjang terhadap rupiah dan pertumbuhan ekonomi masih akan terus berlanjut.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar