Haluannews Ekonomi – PT Astra International Tbk. (ASII), salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia, melaporkan penurunan kinerja keuangan yang signifikan pada tahun buku 2025. Laba bersih konsolidasi Grup Astra tercatat sebesar Rp32,77 triliun, terkoreksi 2% secara tahunan (year-on-year) dibandingkan dengan capaian Rp33,90 triliun pada periode yang sama tahun 2024. Penurunan ini sejalan dengan pendapatan bersih konsolidasi yang juga turun 2% menjadi Rp323,4 triliun.

Related Post
Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro, menjelaskan bahwa tekanan utama terhadap laba bersih Grup berasal dari melemahnya kontribusi bisnis jasa penambangan dan pertambangan batu bara, serta kelesuan di pasar mobil baru. "Pada tahun 2025, laba Grup mengalami penurunan terutama disebabkan harga batu bara yang lebih rendah dan lemahnya pasar mobil baru," ungkap Djony dalam keterangan resminya yang diterima Haluannews.id pada Jumat (27/2/2026).

Meskipun demikian, Djony menegaskan bahwa kinerja Grup Astra tetap menunjukkan resiliensi berkat diversifikasi bisnisnya. Penurunan di sektor-sektor tersebut sebagian berhasil diimbangi oleh performa yang lebih baik dari bisnis pertambangan emas, jasa keuangan, dan penjualan sepeda motor.
Kinerja Sektor Bisnis Grup Astra:
Secara lebih rinci, performa laba bersih per divisi menunjukkan gambaran yang bervariasi:
- Otomotif dan Mobilitas: Divisi ini masih menjadi penopang utama dengan laba bersih Rp11,36 triliun. Namun, angka ini sedikit menurun dari Rp11,40 triliun pada tahun sebelumnya, mencerminkan tantangan di pasar mobil baru.
- Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi: Divisi ini mengalami tekanan paling besar dengan laba bersih anjlok 24% menjadi Rp9,1 triliun. Penurunan ini terutama disebabkan oleh bisnis jasa penambangan dan pertambangan batu bara, meskipun sebagian terkompensasi oleh peningkatan kinerja bisnis pertambangan emas.
- Jasa Keuangan: Menjadi salah satu penopang pertumbuhan, divisi ini mencatatkan peningkatan laba bersih 9% menjadi Rp8,95 triliun. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan kontribusi dari bisnis pembiayaan konsumen, yang didukung oleh portofolio pembiayaan yang membesar.
- Infrastruktur: Laba bersih divisi infrastruktur melonjak 24% menjadi Rp1,3 triliun. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan tarif jalan tol serta volume lalu lintas yang lebih tinggi, dengan konsesi jalan tol Grup mencatat peningkatan pendapatan harian sebesar 8%.
- Agribisnis: Divisi agribisnis juga menunjukkan pertumbuhan positif dengan kenaikan laba 28% yoy menjadi Rp1,2 triliun. Faktor pendorongnya adalah kenaikan harga minyak kelapa sawit (CPO) sebesar 11% dan peningkatan volume penjualan CPO beserta produk turunannya sebanyak 13% menjadi 1,8 juta ton.
- Properti: Divisi properti mencatat pertumbuhan laba bersih tertinggi, meroket 224% yoy menjadi Rp719 miliar. Peningkatan signifikan ini terutama berasal dari aset-aset gudang industri yang baru diakuisisi serta pengakuan goodwill negatif dari akuisisi PT Mega Manunggal Property Tbk. (MMLP).
- Teknologi Informasi: Laba bersih divisi teknologi informasi meningkat 33% menjadi Rp208 miliar. Kenaikan ini didorong oleh pendapatan yang lebih tinggi dari bisnis solusi teknologi informasi serta peningkatan marjin usaha.
Secara keseluruhan, nilai aset bersih per saham ASII pada 31 Desember 2025 naik 8% menjadi Rp5.692. Posisi kas bersih Grup, tidak termasuk anak perusahaan Jasa Keuangan, tercatat Rp7,2 triliun pada akhir 2025, sedikit menurun dari Rp8,0 triliun pada akhir 2024. Sementara itu, utang bersih anak perusahaan Jasa Keuangan Grup meningkat menjadi Rp64,9 triliun dari Rp60,2 triliun.
Menatap ke depan, Djony Bunarto Tjondro menyatakan optimisme terhadap perbaikan sentimen konsumen secara keseluruhan, meskipun kondisi operasional di beberapa bisnis masih menantang. "Astra akan tetap berfokus pada keunggulan operasional dan alokasi modal yang disiplin, dengan memanfaatkan posisi neraca Astra yang kuat untuk mendukung penciptaan nilai yang berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan," pungkasnya.
Editor: Rohman








Tinggalkan komentar