Haluannews Ekonomi – Ekspansi ambisius MRT Jakarta kini menyasar Balaraja, Banten, menandai babak baru pengembangan infrastruktur transportasi massal yang berpotensi mengubah lanskap ekonomi regional secara drastis. Studi kelayakan untuk Lintas Timur-Barat Fase 2, yang membentang sejauh 30 kilometer dari Kembangan hingga Balaraja, akan segera digulirkan. Proyek strategis ini sontak memicu gelombang minat dari para raksasa properti nasional, yang melihat potensi ekonomi luar biasa di koridor tersebut.

Related Post
Tujuh pengembang papan atas telah mengikat komitmen melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT MRT Jakarta. Daftar prestisius tersebut mencakup PT Serpong Cipta Kreasi (Summarecon Serpong), PT Alam Sutra Realty Tbk (Alam Sutera), PT Lippo Karawaci (Lippo Land), PT Paramount Enterprise International (Paramount Land), PT Serpong Cipta Cahaya (Summarecon Tangerang), PT Sinar Puspapersada (Intiland Development Tbk), serta PT Metropolitan Karyadeka Development (Metland Cyber Putri). Keterlibatan mereka menegaskan keyakinan sektor swasta terhadap prospek pertumbuhan kawasan yang akan dilintasi MRT.

Tuhiyat, Direktur Utama PT MRT Jakarta, menegaskan bahwa MoU ini adalah perwujudan konkret dari mandat ketiga pemerintah kepada perseroan: mengoptimalkan pengembangan kawasan berkonsep Transit Oriented Development (TOD) dalam radius 700 meter dari setiap stasiun. Menurutnya, ini lebih dari sekadar seremoni, melainkan deklarasi komitmen kolektif untuk membangun sistem transportasi massal yang berorientasi pada pelayanan publik dan berkelanjutan. "Kolaborasi ini adalah bukti keseriusan semua pihak dalam mewujudkan sistem transportasi yang efisien dan berkelanjutan," ungkap Tuhiyat dalam rilis pers yang diterima Haluannews.id pada Kamis (5/2/2026).
Tuhiyat memaparkan bahwa Lintas Timur-Barat adalah koridor vital yang akan merajut simpul-simpul penting: mulai dari kawasan hunian padat, sentra industri, hingga pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di DKI Jakarta dan Provinsi Banten. Dalam upaya mendukung pemerintah pusat sebagai pemegang proyek, MRT Jakarta berinisiatif memimpin kolaborasi studi bersama para pengembang. Langkah ini diharapkan tidak hanya mendorong konektivitas yang lebih baik, tetapi juga menciptakan efisiensi anggaran yang signifikan, khususnya untuk wilayah Banten.
Fase ekspansi ini, menurut Tuhiyat, diproyeksikan membentang sepanjang 30 kilometer, menghubungkan Kembangan hingga Balaraja. Ia menaruh harapan besar agar studi kolaboratif ini dapat memperlancar proses perencanaan Lintas Timur-Barat Fase 2 oleh Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, baik dari aspek kelembagaan maupun pendanaan.
Lebih jauh, Tuhiyat menjelaskan bahwa melalui MoU ini, MRT Jakarta dan para pengembang berkomitmen mendorong implementasi konsep TOD yang melampaui sekadar mobilitas. Fokus utamanya adalah peningkatan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh. "Proyek ambisius ini hanya dapat terwujud melalui sinergi kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor swasta," tegasnya.
Tuhiyat tak lupa menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kementerian Perhubungan Republik Indonesia dan Bappenas atas dukungan dan arahan kebijakan yang konsisten. Penghargaan serupa juga ditujukan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Provinsi Banten atas dorongan berkelanjutan dalam mewujudkan konektivitas antarwilayah. Kepada para pengembang yang telah meneken MoU, ia mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dan komitmen yang telah diberikan. "Kolaborasi strategis ini dipastikan akan melahirkan solusi inovatif yang tidak hanya meringankan beban pendanaan publik, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi yang substansial bagi kawasan dan kesejahteraan masyarakat," pungkas Tuhiyat.
Berikut Titiknya Tahap I Lintas Barat (Banten) Sepanjang 29,9 Km :
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar