Bankir RI Siaga Penuh! Strategi Jaga Likuiditas di Tengah Badai Geopolitik

Bankir RI Siaga Penuh! Strategi Jaga Likuiditas di Tengah Badai Geopolitik

Haluannews Ekonomi – Industri perbankan Indonesia kini menghadapi tantangan serius di tengah eskalasi ketegangan geopolitik global, khususnya ancaman konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini memicu serangkaian risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas finansial, mulai dari penurunan permintaan kredit, gejolak pasar, inflasi yang tak terkendali, hingga fluktuasi nilai tukar mata uang. Para bankir di Tanah Air pun dituntut untuk memutar otak dan merancang strategi mitigasi guna menjaga kondisi likuiditas agar tetap prima.

COLLABMEDIANET

Berbagai bank telah mengambil langkah proaktif untuk membentengi diri dari dampak ketidakpastian global. Salah satunya adalah PT Bank Mega Tbk. (MEGA). Direktur Utama Bank Mega, Kostaman Thayib, menegaskan bahwa pihaknya sangat berhati-hati dalam menyalurkan kredit, sembari mengalokasikan dana ke instrumen investasi yang lebih aman dan bernilai. Bank Mega secara konsisten menjaga rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) di kisaran 70%, jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) yaitu 78%-92%. Meskipun keputusan ini berpotensi dikenakan denda giro wajib minimum (GWM), Kostaman menilai prioritas utama adalah menjaga likuiditas.

Bankir RI Siaga Penuh! Strategi Jaga Likuiditas di Tengah Badai Geopolitik
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Bagi Bank Mega, menjaga likuiditas adalah hal yang jauh lebih penting, terutama jika terjadi krisis. Pengalaman kami menunjukkan bahwa saat krisis, sekitar 30% dana nasabah bisa ditarik dari bank. Oleh karena itu, Bank Mega selalu menjaga kebijakan likuiditas kami pada level tersebut," jelas Kostaman saat ditemui di Auditorium Bank Mega, Selasa (31/3/2026). Bank papan tengah milik CT Corp ini juga aktif mendorong pertumbuhan dana murah (low cost funding) sebagai pilar stabilitas likuiditas.

Kondisi likuiditas yang baik juga dilaporkan oleh PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA). Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengungkapkan bahwa likuiditas bank saat ini cukup terjaga, sebagian besar karena permintaan kredit yang masih cenderung lemah. Meski demikian, CIMB Niaga tetap berambisi mengejar pertumbuhan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA), khususnya dari segmen nasabah non-ritel. "Saat ini likuiditas masih baik karena memang permintaan kredit juga lemah. Namun, kami tetap fokus untuk CASA terutama dari segmen non-ritel," ujar Lani kepada Haluannews.id, Rabu (1/4/2026). Bank swasta terbesar kedua di Indonesia ini menargetkan LDR di kisaran 85%-90%, didukung oleh skenario stress test yang mumpuni, terkoordinasi secara internal maupun dengan regulator.

Dari jajaran bank besar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) juga berupaya mengoptimalkan fungsi intermediasinya dengan target LDR 89% hingga 92% pada akhir tahun 2026. Corporate Secretary BRI, Dhanny, menyatakan bahwa likuiditas bank pelat merah ini tetap terkendali di tengah potensi gejolak perang AS-Iran. BRI secara konsisten menjaga komposisi dana murah (CASA), menyalurkan kredit secara selektif, serta memastikan ketersediaan penyangga likuiditas yang memadai. "Optimalisasi seluruh sumber likuiditas terus dilakukan untuk menjaga rasio likuiditas seperti LCR dan NSFR sesuai ketentuan regulator," kata Dhanny kepada Haluannews.id, Rabu (1/4/2026). Ia menambahkan, aktivitas transaksi nasabah menunjukkan kinerja solid berkat ekosistem digital BRI yang kuat, seperti BRImo dan QLola by BRI. Inovasi digital ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan dana murah dan pendapatan berbasis biaya (fee based income).

PT Bank KB Indonesia Tbk. (BBKP), atau KB Bank, juga tidak tinggal diam. Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan langkah mitigasi risiko dan antisipasi proaktif. Ini dilakukan melalui pemantauan dan pengelolaan eksposur pada sektor-sektor yang sangat sensitif terhadap volatilitas indikator makroekonomi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Sektor-sektor tersebut meliputi manufaktur dengan ketergantungan impor tinggi, transportasi, logistik dan distribusi, energi dan komoditas strategis, serta ritel dan konsumsi. Dari sisi manajemen risiko, pengawasan dan evaluasi berkala dilakukan untuk mengukur sensitivitas permodalan, termasuk kecukupan rasio kecukupan modal (CAR) terhadap berbagai skenario kenaikan kredit bermasalah (NPL) yang dipicu oleh guncangan eksternal. "Apabila konflik bersifat sementara dan tidak menimbulkan disrupsi ekonomi yang luas, dampaknya terhadap pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) akan disesuaikan dengan perkembangan risiko aktual yang dihadapi Bank pada periode berjalan," terang Kunardy kepada Haluannews.id, Rabu (1/4/2026). KB Bank, yang merupakan bagian dari Kookmin Bank Korea Selatan, menargetkan LDR sekitar 90%.

Senada, PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR) atau OK Bank juga berencana mengoptimalkan LDR di kisaran 80% hingga 90%. Direktur Kepatuhan OK Bank, Efdinal Alamsyah, menekankan pentingnya menjaga penyangga likuiditas yang kuat melalui peningkatan aset likuid berkualitas tinggi (HQLA), penguatan dana CASA, serta penyiapan rencana pendanaan darurat (contingency funding plan) dan stress testing secara berkala. "Memang jika konflik AS-Iran berkepanjangan berpotensi menekan likuiditas melalui volatilitas pasar global, potensi capital outflow, pelemahan nilai tukar, serta kenaikan harga energi yang dapat memicu inflasi dan suku bunga. Kondisi ini dapat memperketat likuiditas di pasar keuangan," ujarnya kepada Haluannews.id, Rabu (1/4/2026). Selain itu, OK Bank juga aktif berkoordinasi dengan regulator dan menjaga komunikasi dengan nasabah untuk memastikan stabilitas likuiditas berkelanjutan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan bahwa sektor perbankan berada dalam pengawasan ketat. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengungkapkan bahwa bank-bank secara sukarela telah melakukan stress test. Lebih dari itu, tim pengawas perbankan OJK juga melakukan stress test secara individual terhadap setiap bank untuk menguji transmisi risiko dari berbagai faktor, termasuk nilai tukar dan inflasi. "Itu semua itu nanti sedang kita analisis secara mendalam, apa sih kemudian implikasinya, market risk apa yang akan dihadapi bank dan lain sebagainya itu nanti kita akan betul-betul kita perhatikan dari waktu ke waktu dan bahkan per individual bank, akan kita perhatikan," imbuh Dian saat ditemui di Gedung DPR RI, Rabu (1/4/2026).

Langkah-langkah proaktif dari para bankir dan pengawasan ketat dari OJK menunjukkan komitmen kuat industri perbankan Indonesia untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global. Dengan strategi yang matang dan mitigasi risiko yang terencana, diharapkan sektor perbankan dapat terus menjalankan fungsi intermediasinya secara optimal, melindungi dana nasabah, dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar