Haluannews Ekonomi – Sektor industri baja di Indonesia kini dihadapkan pada tantangan signifikan, dipicu oleh lonjakan harga komoditas global. Konflik geopolitik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina telah menciptakan sentimen pasar yang turut mengerek biaya produksi baja, memukul pelaku industri di Tanah Air.

Related Post
Stephanus Koeswandi, Vice President Tatalogam Group, menggarisbawahi dampak langsung dari fluktuasi harga komoditas ini. Sebagai produsen bahan bangunan berbasis baja, termasuk genteng metal dan baja ringan, Tatalogam Group merasakan lonjakan signifikan pada harga bahan baku, yang secara otomatis meningkatkan beban operasional perusahaan.

Menjelang tahun 2026, para pelaku industri baja domestik menyuarakan harapan agar pemerintah dapat memperketat regulasi terhadap pasokan baja impor, khususnya dari Tiongkok. Langkah ini dianggap vital untuk melindungi keberlangsungan produsen lokal dari praktik persaingan tidak sehat. Penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang ketat untuk setiap produk baja impor yang beredar di pasar domestik diyakini menjadi benteng pertahanan efektif.
Menyikapi dinamika pasar yang penuh tantangan, Tatalogam Group mengambil langkah proaktif dengan memperkuat fondasi produksi. Perusahaan menargetkan peningkatan kapasitas produksi secara signifikan, dari 250 ribu ton menjadi 500 ribu ton per tahun. Ekspansi ini merupakan strategi kunci untuk memperluas jangkauan pasar dan mengukuhkan posisi kompetitif di industri.
Informasi ini terungkap dalam dialog eksklusif Shinta Zahara dengan Stephanus Koeswandi di program Manufacture Check, Haluannews.id, pada Senin, 9 Maret 2026.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar