Badai Geopolitik Guncang Bursa: Maskapai Terjun Bebas, Minyak Meroket!

Badai Geopolitik Guncang Bursa: Maskapai Terjun Bebas, Minyak Meroket!

Haluannews Ekonomi – Jakarta, Haluannews.id – Sektor maskapai penerbangan menjadi pemimpin dalam gelombang koreksi di bursa saham Asia pada hari Senin (2/3/2026). Penurunan signifikan ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu jalur udara dan menyebabkan penutupan bandara, sementara harga minyak mentah melonjak tajam, memberikan dorongan bagi saham-saham energi.

COLLABMEDIANET

Berdasarkan pantauan Haluannews.id dari berbagai sumber internasional, saham Singapore Airlines anjlok lebih dari 6%, memimpin kerugian di sektor ini. Maskapai Jepang, All Nippon Airways (ANA) dan Japan Airlines (JAL), masing-masing mencatat penurunan lebih dari 4%. Sementara itu, Cathay Pacific yang berbasis di Hong Kong juga terkoreksi 3,63%. Maskapai lain seperti Qantas Australia dan Eva Air Taiwan turut mengalami tekanan, masing-masing turun lebih dari 4%, seiring kekhawatiran investor terhadap kenaikan biaya bahan bakar dan potensi gangguan operasional yang lebih luas.

Badai Geopolitik Guncang Bursa: Maskapai Terjun Bebas, Minyak Meroket!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kenaikan harga minyak berjangka menjadi sorotan utama, melonjak drastis setelah konflik antara AS-Israel dan Iran memanas pasca kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Presiden AS Donald Trump pada Minggu lalu menegaskan bahwa operasi tempur di Iran akan terus berlanjut menyusul tewasnya tiga personel militer AS.

Harga minyak berjangka sempat melonjak 8% di awal perdagangan sebelum memangkas kenaikannya menjadi sekitar 4%. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terakhir diperdagangkan pada level US$69,68 per barel, sementara minyak mentah Brent mencapai US$76,13 per barel. Di tengah ketidakpastian ini, emas berjangka melonjak 2,3%, menegaskan perannya sebagai aset safe haven global yang dicari investor di masa krisis.

Kontras dengan sektor penerbangan, saham-saham energi di Asia justru menikmati keuntungan dari lonjakan harga minyak mentah. Woodside Energy di Australia dan Inpex di Jepang masing-masing melonjak hingga 5%, sementara China National Offshore Oil Corporation di Hong Kong naik lebih dari 3%.

Sektor pertahanan di kawasan ini juga menunjukkan kenaikan, meskipun dengan skala yang lebih moderat. Mitsubishi Heavy Industries, Kawasaki Heavy Industries, dan IHI di Jepang masing-masing naik 0,47% dan lebih dari 2%. ST Engineering di Singapura juga menguat 3%. Perdagangan saham-saham pertahanan utama Asia lainnya tidak berlangsung pada hari Senin karena pasar di Korea Selatan tutup untuk hari libur nasional.

Secara keseluruhan, indeks acuan pasar saham Asia juga tertekan. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,25%, meskipun sempat mengurangi koreksi sebelumnya, sementara Topix anjlok 1,24%. Indeks Hang Seng Hong Kong tergelincir 1,58%, dan CSI 300 Tiongkok daratan turun 0,1%. Indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 0,22%, dengan kerugian sebagian diimbangi oleh kenaikan di sektor minyak dan pertambangan emas.

Sentimen negatif ini juga merambat ke pasar berjangka saham AS. Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average anjlok 517 poin, atau 1%, dalam perdagangan semalam setelah serangan akhir pekan di Iran. Kontrak berjangka S&P 500 kehilangan 1%, dan kontrak berjangka Nasdaq 100 turun sedikit lebih dari 1%, mencerminkan kekhawatiran global terhadap dampak ekonomi dari konflik geopolitik yang memanas.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar