Haluannews Ekonomi – PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), emiten pengelola jaringan ritel Hypermart, kembali menjadi sorotan tajam di pasar modal setelah mengumumkan kerugian bersih selama sembilan tahun berturut-turut, terhitung sejak 2017 hingga proyeksi akhir tahun 2025. Kondisi finansial yang kian tertekan ini diperparah dengan defisiensi modal yang kini membelit emiten Grup Lippo tersebut, menimbulkan pertanyaan besar tentang keberlanjutan operasionalnya.

Related Post
Berdasarkan laporan keuangan terbaru yang diakses dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), kerugian tahun berjalan MPPA per Desember 2025 membengkak signifikan menjadi Rp152,21 miliar. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan kerugian Rp118,1 miliar yang tercatat pada periode tahun 2024.

Ironisnya, pembengkakan kerugian ini terjadi di tengah pertumbuhan pendapatan perseroan. Total pendapatan MPPA naik menjadi Rp7,25 triliun, meningkat dari sebelumnya Rp7,11 triliun. Namun, kenaikan pendapatan ini diiringi oleh lonjakan beban pokok penjualan yang mencapai Rp5,98 triliun, menggerus potensi laba. Penjualan langsung masih menjadi kontributor utama pendapatan dengan Rp7,16 triliun, disusul penjualan konsinyasi sebesar Rp448,80 miliar.
Menanggapi situasi yang menantang ini, CEO MPPA Adrian Suherman, dalam keterbukaan informasi BEI pada Rabu (18/2/2026), menyatakan bahwa tahun 2025 justru mencerminkan penguatan fundamental perusahaan. Ia menyoroti pertumbuhan penjualan yang moderat dan peningkatan margin yang dicapai melalui pengelolaan biaya yang disiplin serta perbaikan strategi merchandising. "Kami terus berinvestasi pada inisiatif yang mendukung transformasi jangka panjang. Respons positif terhadap inisiatif rebranding semakin memperkuat keyakinan kami bahwa upaya ini akan menghasilkan kinerja yang berkelanjutan dan menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan," jelas Suherman.
Akumulasi kerugian selama sembilan tahun beruntun ini berujung pada saldo defisit yang belum ditentukan penggunaannya sebesar Rp2,95 triliun per 31 Desember 2026. Konsekuensinya, MPPA kini mencatat defisiensi modal atau ekuitas negatif sebesar Rp2,24 miliar, sebuah indikator serius terhadap kesehatan finansial perusahaan dan kemampuannya untuk mendanai operasional di masa mendatang.
Catatan Haluannews.id menunjukkan bahwa MPPA terakhir kali membukukan laba bersih pada tahun 2016, dengan nilai Rp38,48 miliar. Angka tersebut sudah menunjukkan penurunan drastis dibandingkan laba bersih tahun 2015 sebesar Rp222 miliar dan tahun 2014 yang mencapai Rp574 miliar. Sejak saat itu, performa keuangan MPPA terus merosot, menempatkan perusahaan di persimpangan jalan untuk menentukan strategi penyelamatan jangka panjang.
Editor: Rohman









Tinggalkan komentar