Haluannews Ekonomi – Pasar modal Indonesia kembali diwarnai sentimen negatif pada perdagangan Kamis (19/2/2026), di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus rela ditutup di zona merah. Pelemahan ini turut diiringi oleh dinamika menarik dari investor asing, yang meskipun secara agregat mencatatkan pembelian bersih di seluruh pasar, justru terpantau aktif melepas sejumlah saham di pasar reguler.

Related Post
Pada penutupan perdagangan kemarin, IHSG terpangkas 0,43%, mengakhiri sesi di level 8.274,81. Pergerakan indeks yang lesu ini terjadi di tengah nilai transaksi yang fantastis, mencapai Rp26,24 triliun. Sebanyak 53,30 miliar saham berpindah tangan dalam 3,33 juta kali transaksi. Sentimen pasar cenderung negatif, tercermin dari jumlah saham yang melemah (366 saham) lebih banyak dibandingkan yang menguat (326 saham), sementara 127 saham lainnya stagnan.

Dinamika investor asing menjadi sorotan utama di tengah gejolak pasar. Data dari Haluannews.id menunjukkan, secara keseluruhan, investor asing memang membukukan pembelian bersih sebesar Rp387,80 miliar di seluruh pasar. Angka ini didongkrak oleh pembelian besar di pasar negosiasi dan tunai yang mencapai Rp633,17 miliar, seringkali melibatkan transaksi blok atau kesepakatan khusus. Namun, di sisi lain, tekanan jual justru terlihat jelas di pasar reguler, dengan investor asing melepas saham senilai Rp245,37 miliar.
Aksi jual bersih di pasar reguler ini mengindikasikan bahwa sejumlah emiten, baik yang berkapitalisasi besar maupun yang menjadi favorit investor, menjadi target pelepasan portofolio oleh asing. Meskipun daftar spesifik saham-saham yang paling banyak dilepas belum dirinci, fenomena ini kerap menjadi indikator awal pergeseran sentimen atau realisasi keuntungan oleh investor global. Pelemahan IHSG yang diiringi oleh tekanan jual asing di pasar reguler ini patut dicermati oleh para pelaku pasar, mengingat dampaknya terhadap pergerakan harga saham individual dan stabilitas pasar secara keseluruhan. Investor diharapkan tetap waspada dan melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar