Haluannews Ekonomi – Konflik yang memanas di Timur Tengah kembali menjadi sorotan utama, tidak hanya karena dampak geopolitiknya, tetapi juga ancaman serius terhadap stabilitas ekonomi global dan domestik. Kekhawatiran akan lonjakan inflasi dan potensi kenaikan suku bunga mengemuka, memicu kewaspadaan di kalangan pelaku pasar dan pembuat kebijakan.

Related Post
Farash Farich, Chief Investment Officer BNI Asset Management, menyoroti bahwa eskalasi konflik, terutama potensi penutupan Selat Hormuz yang strategis, telah memicu kenaikan signifikan pada harga komoditas energi seperti minyak, gas, dan batu bara. "Situasi ini langsung berdampak pada pasar energi global, menciptakan tekanan harga yang substansial," ujarnya dalam dialog Power Lunch Haluannews.id pada Selasa (31/03/2026).

Kenaikan harga energi ini bukan sekadar angka di pasar komoditas. Ia memiliki efek domino yang mengkhawatirkan. Menurut Farash, lonjakan biaya energi berpotensi besar mengerek harga-harga barang dan jasa secara keseluruhan, yang pada gilirannya akan meningkatkan angka inflasi. Inflasi yang persisten dan tinggi dapat menggerus daya beli masyarakat, membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui subsidi energi yang membengkak, serta menghambat prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
Dampak paling krusial dari tekanan inflasi ini adalah terhadap arah kebijakan moneter bank sentral. Prospek pemangkasan suku bunga oleh bank sentral utama dunia seperti The Fed di Amerika Serikat dan Bank Indonesia (BI) bisa tertunda atau bahkan dibatalkan. Lebih jauh lagi, Farash mengkhawatirkan skenario terburuk di mana bank sentral justru akan terpaksa menaikkan suku bunga untuk meredam laju inflasi yang tak terkendali. Hal ini tentu menjadi dilema bagi bank sentral yang sebelumnya berencana melonggarkan kebijakan moneter untuk mendukung pemulihan ekonomi.
Kondisi ketidakpastian yang menyeluruh ini secara langsung memengaruhi sentimen investor. Pelaku pasar cenderung mengambil sikap hati-hati, bahkan menarik diri dari aset-aset berisiko, baik di pasar keuangan global maupun di Indonesia. Investasi menjadi lebih selektif dan berorientasi pada keamanan di tengah gejolak yang ada, yang berpotensi memperlambat aliran modal masuk ke pasar domestik.
Analisis mendalam dari Farash Farich ini menegaskan bahwa dampak perang di Timur Tengah jauh melampaui batas geografisnya, menciptakan gelombang ekonomi yang patut diwaspadai oleh semua pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, hingga investor, untuk memitigasi risiko dan menjaga stabilitas ekonomi.
Editor: Rohman



Tinggalkan komentar