Haluannews Ekonomi – Jakarta – Pasar komoditas energi global kembali bergejolak hebat pada Kamis (2/4/2026), dengan harga minyak dunia yang melesat tajam setelah sempat terkoreksi. Lonjakan ini dipicu oleh memanasnya eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global.

Related Post
Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 09.30 WIB, harga minyak mentah Brent tercatat di level US$106,16 per barel, melonjak signifikan dari penutupan sebelumnya di US$101,16. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga tak ketinggalan, menguat ke US$104,32 per barel dari posisi US$100,12. Kenaikan ini merepresentasikan lonjakan hampir 4,9% untuk Brent dan 4,2% untuk WTI dalam kurun waktu satu hari perdagangan. Pergerakan ini menunjukkan pembalikan arah yang drastis setelah harga sempat melemah pada sesi sebelumnya.

Volatilitas ekstrem telah menjadi ciri khas pasar minyak dalam beberapa waktu terakhir. Jika menilik kembali, harga Brent sempat menyentuh puncaknya di US$118,35 per barel pada 31 Maret 2026. Artinya, dalam rentang waktu yang singkat, pasar telah menyaksikan pergerakan harga yang sangat fluktuatif, dari reli tajam, koreksi mendalam, hingga kini kembali menguat, mencerminkan sensitivitas tinggi terhadap dinamika eksternal.
Sentimen utama yang mendorong reli harga kali ini datang dari perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump secara tegas menyatakan bahwa serangan terhadap Iran akan terus dilanjutkan, dengan target termasuk fasilitas energi dan minyak dalam beberapa pekan mendatang. Pernyataan ini sontak mengubah arah pasar yang sebelumnya cenderung wait and see, memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan yang lebih luas dan dampaknya terhadap rantai pasok global.
Ketegangan di kawasan juga semakin memuncak setelah sebuah kapal tanker minyak yang disewa QatarEnergy dilaporkan menjadi sasaran rudal jelajah Iran di perairan Qatar. Insiden ini secara langsung meningkatkan risiko keamanan jalur distribusi energi global, khususnya di sekitar Selat Hormuz, yang merupakan arteri vital bagi perdagangan minyak dunia. Ancaman terhadap pelayaran di jalur strategis ini berpotensi mengganggu aliran pasokan dan memicu kenaikan harga lebih lanjut, menambah premi risiko geopolitik pada harga komoditas.
Dari sisi pasokan, International Energy Agency (IEA) telah mengeluarkan peringatan bahwa gangguan suplai mulai terasa, terutama di Eropa pada bulan April. Selama ini, kawasan tersebut relatif terlindungi oleh kontrak pasokan jangka panjang, namun kondisi tersebut kini berubah seiring dengan berlarutnya konflik. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar akan semakin rentan terhadap guncangan pasokan di masa mendatang, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi.
Melihat dinamika pergerakan harga sejak akhir Maret, jelas terlihat bahwa tren harga minyak saat ini sangat didominasi oleh perkembangan geopolitik. Dalam waktu kurang dari dua pekan, Brent telah berayun dari kisaran US$99, menembus US$118, kemudian turun ke US$101, dan kini kembali bertengger di atas US$106. Fluktuasi tajam ini menegaskan betapa sensitifnya pasar komoditas strategis ini terhadap setiap eskalasi konflik, menuntut para pelaku pasar untuk terus mencermati perkembangan politik global.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar