Alarm Merah Rupiah! Dolar Mengintai Rp17.000 Pasca-Lebaran 2026

Alarm Merah Rupiah! Dolar Mengintai Rp17.000 Pasca-Lebaran 2026

Haluannews Ekonomi – Proyeksi para ekonom menunjukkan pergerakan nilai tukar rupiah berpotensi menghadapi tekanan signifikan setelah periode libur panjang Lebaran 2026. Kekhawatiran utama tertuju pada kemungkinan dolar Amerika Serikat (AS) menembus level psikologis Rp17.000, didominasi oleh ketidakpastian geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah, serta arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve).

COLLABMEDIANET

Myrdal Gunarto, Global Markets Economist di Maybank Indonesia, menggarisbawahi kerentanan rupiah saat ini, terutama jika tensi geopolitik kembali memanas. Myrdal secara spesifik menyoroti eskalasi ketegangan, termasuk uji coba rudal balistik Iran, yang berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah global. "Hingga sepekan ke depan, kami melihat pergerakan nilai tukar rupiah cukup rawan untuk menembus level 17.000, terutama jika terjadi peningkatan tensi geopolitik," ujar Myrdal kepada Haluannews.id pada Selasa (17/3/2026). Namun, ia menambahkan, rupiah berpeluang stabil jika ketegangan mereda dan harga minyak terkoreksi selama periode libur operasional Bank Indonesia (BI) yang berlangsung dari 18 Maret hingga 24 Maret 2026. Ia menekankan pentingnya antisipasi Bank Indonesia terhadap dinamika pasar offshore meskipun operasional domestik libur.

Alarm Merah Rupiah! Dolar Mengintai Rp17.000 Pasca-Lebaran 2026
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di sisi lain, Faisal Rachman, Kepala Riset Ekonomi Makro dan Market Permata Bank, menilai tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut. Hal ini disebabkan oleh jadwal rilis hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed yang berlangsung selama periode libur Lebaran. "Kemungkinan tekanan baru akan terealisasi ketika pasar kembali buka nanti pasca libur panjang Lebaran," jelas Faisal kepada Haluannews.id, Selasa (17/3/2026). Faisal menambahkan, level rupiah Rp17.000 per dolar AS yang bersifat sementara akan sangat bergantung pada perkembangan global. Jika konflik berkepanjangan, memicu inflasi dan menekan kondisi fiskal, serta The Fed mengambil sikap yang lebih hawkish, maka level tersebut bisa bertahan lama hingga kondisi global membaik.

Menyikapi potensi gejolak ini, Bank Indonesia (BI) telah meningkatkan kewaspadaan untuk menjaga stabilitas kurs rupiah selama libur Lebaran. Deputi Gubernur BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa meskipun pasar keuangan domestik tutup, pasar di luar negeri tetap beroperasi. Oleh karena itu, gejolak nilai tukar rupiah tetap harus dipantau secara intensif 24 jam penuh. "Memang pasar domestik tutup, tapi pasar di luar itu tidak tutup. Nah ini yang kami terus berjaga-jaga, 24 jam kami terus memantau pasar untuk dolar, untuk rupiah dolar, yang dalam hal ini kita lihat melalui pasar NDF," kata Destry dalam konferensi pers daring hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Selasa (17/3/2026).

Destry menegaskan, kewaspadaan terhadap pergerakan transaksi kurs menjadi krusial mengingat konflik di Timur Tengah terbukti telah memperburuk ketidakpastian pasar keuangan global. Indikasinya terlihat dari arus modal asing yang terus keluar dari pasar negara berkembang. Pada Maret 2026, investasi portofolio mencatat net outflow sebesar US$1,1 miliar, berbalik arah dari kumulatif net inflow sebesar US$1,6 miliar pada Januari-Februari 2026. Arus modal keluar ini menjadi salah satu pemicu utama terpuruknya mata uang negara-negara berkembang di hadapan dolar AS. "Dengan peningkatan premi risiko yang sangat tinggi akibat ketidakpastian global, semua mata uang emerging market saat ini terpuruk," pungkas Destry.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar