Haluannews Ekonomi – Rupiah kembali menjadi sorotan tajam di pasar keuangan. Pada perdagangan Rabu, 1 April 2026, nilai tukar mata uang Garuda ini terperosok hingga menembus level krusial Rp 17.000 per Dolar AS, sebuah level yang terakhir terlihat di masa krisis. Pelemahan signifikan ini terjadi di tengah gejolak geopolitik global yang kian memanas, memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi domestik.

Related Post
Situasi ini sontak memicu pertanyaan besar di kalangan investor dan pelaku pasar: apa sebenarnya pemicu utama di balik anjloknya Rupiah kali ini, dan bagaimana dampaknya terhadap pergerakan pasar saham Indonesia? Untuk mengupas tuntas fenomena ini, Haluannews.id melalui program Power Lunch (Rabu, 01/04/2026) menghadirkan diskusi mendalam bersama Syarifah Rahma dan FX Analyst Haluannews.id, Elvan Chandra Widyatama.

Elvan Chandra Widyatama dalam analisisnya menyoroti bahwa tekanan geopolitik global memang menjadi faktor dominan yang mendorong investor mencari aset safe haven seperti Dolar AS. Konflik yang berkepanjangan di berbagai belahan dunia menciptakan ketidakpastian, yang pada gilirannya memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain itu, ekspektasi terhadap kebijakan moneter bank sentral utama dunia, terutama Federal Reserve AS, juga turut memperkeruh sentimen pasar terhadap mata uang berisiko seperti Rupiah.
Pelemahan Rupiah hingga menyentuh level psikologis Rp 17.000 per Dolar AS ini tentu bukan sekadar angka. Ini mencerminkan adanya tekanan fundamental yang kuat dan bisa berdampak domino pada sektor riil. Biaya impor akan melonjak, berpotensi memicu inflasi, serta menekan margin keuntungan perusahaan yang banyak bergantung pada bahan baku impor. Di sisi lain, eksportir mungkin diuntungkan, namun secara agregat, pelemahan drastis ini cenderung lebih banyak membawa dampak negatif bagi perekonomian secara keseluruhan.
Mengenai pasar saham RI, Elvan juga memaparkan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemungkinan akan menghadapi sentimen negatif. Investor asing cenderung menarik dananya dari pasar saham domestik ketika Rupiah melemah signifikan, mencari portofolio yang lebih stabil. Sektor-sektor tertentu yang memiliki eksposur tinggi terhadap utang luar negeri atau impor akan menjadi yang paling rentan terhadap gejolak ini. Oleh karena itu, investor disarankan untuk mencermati fundamental perusahaan dan berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi di tengah volatilitas yang tinggi.
Para pemirsa dapat menyaksikan ulasan lengkap dan mendalam mengenai dinamika Rupiah serta proyeksi pasar saham Indonesia dalam tayangan Power Lunch Haluannews.id untuk mendapatkan perspektif yang komprehensif.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar