Haluannews Ekonomi – Survei terbaru mengungkap fakta mengejutkan: 9 dari 10 warga Indonesia menunda perawatan medis! Hampir separuhnya bahkan berulang kali menunda pengobatan. Temuan ini dari Prudential, yang juga mengungkapkan penyebabnya dan dampaknya terhadap inflasi medis serta industri asuransi.

Related Post
Tiga faktor utama menjadi penyebab utama penundaan berobat. Pertama, kurangnya informasi kesehatan yang jelas. Sebanyak 44% responden mengaku kesulitan memahami informasi dari dokter mengenai diagnosis penyakit mereka. Kedua, kekhawatiran biaya perawatan menjadi kendala utama. Ketidakpastian biaya dan potensi biaya tak terduga membuat satu dari lima responden enggan berobat. Untuk menutupi biaya medis, sebagian besar responden (56%) mengandalkan bantuan keluarga, pinjaman, lembaga amal, hingga crowdfunding.

Faktor ketiga yang mengejutkan adalah prioritas tanggung jawab rumah tangga. Sebanyak 20% responden menunda perawatan demi memenuhi kebutuhan finansial keluarga, sementara 18% memprioritaskan pengasuhan anak. Chief Health Officer Prudential, Yosie William Iroth, menyoroti perlunya sistem layanan kesehatan yang lebih baik, memberikan kepastian biaya, dan informasi yang mudah dipahami.
Ekonom Kesehatan, Syarifah Liza, menambahkan bahwa penundaan berobat justru meningkatkan biaya pengobatan di kemudian hari dan berkontribusi pada inflasi medis. Inflasi medis di Indonesia pada 2024 mencapai 10,1%, jauh di atas rata-rata global (6,5%). Kondisi ini berdampak signifikan pada industri asuransi, mendorong peningkatan rasio klaim dan memaksa kenaikan premi asuransi kesehatan hingga rata-rata 43,01% di tahun 2024. Situasi ini menciptakan dilema: masyarakat kesulitan mendapatkan perlindungan asuransi yang terjangkau, sementara industri asuransi harus beradaptasi dengan biaya yang terus membengkak.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar