IHSG Terjungkal Lebih 1%: Bayang-bayang Konflik Global & Kebijakan Domestik!

Related Post
Haluannews Ekonomi – Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan Kamis (26/3/2026) dengan performa yang kurang menggembirakan. Setelah sempat menguat di awal sesi, indeks acuan ini langsung berbalik arah dan anjlok lebih dari 1%, memicu kekhawatiran di kalangan investor. Pada pukul 10.17 WIB, IHSG tercatat merosot 85,81 poin atau 1,18% ke level 7.216,31.

Pelemahan signifikan ini terjadi di tengah dominasi saham-saham yang melemah, dengan 338 saham turun, sementara 318 saham menguat, dan 302 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 23,8 triliun, melibatkan 14,76 miliar saham dalam 698.300 kali transaksi. Kondisi ini kontras dengan optimisme yang sempat menyelimuti pasar keuangan Indonesia pasca libur panjang Lebaran, di mana IHSG dan rupiah kompak menguat, didorong harapan meredanya ketegangan geopolitik global.
Namun, optimisme tersebut tampaknya memudar seiring mencuatnya kembali bayang-bayang konflik geopolitik. Perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) serta Israel kini memasuki minggu keempat sejak pecah pada akhir Februari 2026. Meskipun sinyal diplomasi mulai muncul di balik layar, dengan AS disebut menyiapkan "Proposal 15 Poin" yang disampaikan melalui Pakistan, Teheran menegaskan bahwa pertukaran pesan tersebut tidak berarti negosiasi langsung. Proposal AS menuntut pembongkaran seluruh kemampuan nuklir militer Iran, penghentian total aktivitas pengayaan uranium, serta penyerahan stok uranium yang telah diperkaya kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Perkembangan ini menjadi sumber utama volatilitas global yang terus dicermati pelaku pasar.
Dinamika harga minyak juga turut menambah kompleksitas sentimen pasar. Setelah sempat meredakan kekhawatiran inflasi dengan penurunannya pada perdagangan Rabu (kontrak berjangka West Texas Intermediate/WTI turun 2,2% menjadi US$90,32 per barel, dan Brent internasional turun 2,17% ke US$102,22), harga minyak menunjukkan sedikit kenaikan di sesi Asia. Kontrak berjangka WTI terpantau naik 0,72% menjadi US$91 per barel, mengindikasikan ketidakpastian yang masih membayangi.
Dari dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan sinyal positif bagi perbankan swasta. Ia membuka peluang penempatan dana pemerintah ke bank swasta, asalkan bank tersebut memiliki fundamental yang kuat atau "dapur sehat". Sebelumnya, pemerintah telah menambah penempatan dana ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan Bank Jakarta sebesar Rp 100 triliun, menjadikan totalnya sekitar Rp 300 triliun. Meskipun demikian, rencana pengetatan fiskal dalam negeri juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor, menambah daftar sentimen yang memengaruhi pergerakan pasar.
Di tingkat regional, pasar Asia-Pasifik bergerak beragam pada Kamis ini. Indeks S&P/ASX 200 Australia datar, Nikkei 225 Jepang naik 0,28%, dan Topix naik 0,43%. Sementara itu, Kospi Korea Selatan turun 1,55%, dan indeks Kosdaq untuk saham berkapitalisasi kecil relatif stabil. Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di 25.268. Berbeda dengan Asia, pasar Amerika Serikat semalam justru menunjukkan penguatan. Dow Jones Industrial Average naik 0,66%, S&P 500 menguat 0,54%, dan Nasdaq Composite naik 0,77%, menunjukkan divergensi respons pasar global terhadap sentimen yang ada.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar