IHSG Terjun Bebas Jelang Lebaran 2026: Badai Global Mengancam!

Haluannews Ekonomi – Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan Senin (16/3/2026) dengan kinerja yang kurang menggembirakan, anjlok 114,92 poin atau setara 1,61%, menutup hari di level 7.022,29. Penurunan signifikan ini terjadi menjelang libur panjang Lebaran dan di tengah bayang-bayang kekhawatiran global yang mendalam, seperti diulas Haluannews.id.

COLLABMEDIANET
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sentimen negatif mendominasi bursa, terlihat dari banyaknya saham yang terperosok. Tercatat, 569 saham mengalami koreksi, sementara hanya 189 saham yang berhasil menguat, dan 200 saham lainnya stagnan. Aktivitas perdagangan cukup ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp 15,89 triliun, melibatkan perputaran 30,31 miliar saham dalam 1,64 juta kali transaksi. Namun, kapitalisasi pasar bursa turut terkikis, menyusut menjadi Rp 12.413 triliun.

Berdasarkan data Refinitiv, sektor utilitas mencatat pelemahan terdalam dengan penurunan 3,99%. Disusul oleh sektor properti yang ambles 3,89% dan sektor bahan baku yang terkoreksi 3,79%. Beberapa saham blue chip dan berkapitalisasi besar turut menjadi penekan utama. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menjadi beban terberat bagi IHSG dengan sumbangan -19,02 poin indeks. Diikuti oleh Bumi Resources Minerals (BRMS) dengan -17,18 poin indeks, dan Amman Mineral Internasional (AMMN) yang menyumbang -13,35 poin indeks. Barito Renewables Energy (BREN) dan Bank Central Asia (BBCA) juga masuk dalam jajaran saham-saham yang membebani pergerakan indeks.

Pekan perdagangan kali ini terbilang sangat singkat, hanya berlangsung dua hari, yakni Senin dan Selasa (16-17 Maret 2026), sebelum pasar modal memasuki periode libur panjang dan cuti bersama Idul Fitri yang dimulai pada Rabu (18/3/2026) hingga Selasa pekan berikutnya. Ironisnya, momentum menjelang libur panjang ini justru diwarnai oleh sentimen negatif dan kekhawatiran mendalam dari para investor terkait kondisi ekonomi domestik maupun global.

Pasar keuangan global bersiap menghadapi gelombang sentimen dan rilis data ekonomi krusial sepanjang pekan ini. Konflik yang memanas di Timur Tengah, dengan potensi dampaknya terhadap pasokan energi global, tetap menjadi pemicu utama gejolak pasar. Isu geopolitik ini juga diprediksi akan sangat memengaruhi serangkaian keputusan suku bunga yang akan diambil oleh berbagai bank sentral terkemuka dunia. Secara khusus, perhatian investor tertuju pada rapat kebijakan moneter dari setidaknya 11 bank sentral, termasuk Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat dan Bank Indonesia.

Dengan pasar domestik yang akan libur panjang di tengah derasnya rilis data dan sentimen global, investor dihadapkan pada tantangan untuk mengambil keputusan strategis dalam dua hari perdagangan yang tersisa. Bank Indonesia (BI) sendiri dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Senin dan Selasa (16-17 Maret 2026). Mayoritas ekonom memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%, posisi yang telah berlaku sejak September 2025. Kebijakan ini diambil untuk menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah eskalasi konflik Iran serta potensi lonjakan harga minyak dunia.

Sementara itu, sorotan paling tajam tertuju pada Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed yang akan mengumumkan keputusan suku bunga pada Kamis dini hari waktu Indonesia (19/3/2026), setelah rapat pada Selasa-Rabu waktu AS. Saat ini, suku bunga acuan The Fed berada di rentang 3,5%-3,75%, menyusul tiga kali pemangkasan pada tahun sebelumnya. Pasar sangat menantikan sinyal kebijakan moneter The Fed selanjutnya, terutama di tengah volatilitas infl

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar