Guncangan Ekonomi RI: Minyak Meroket, Rupiah Tumbang, APBN Siaga!
Haluannews Ekonomi – Pasar keuangan Indonesia berada dalam tekanan hebat pada Senin (09/03/2026) seiring dengan guncangan dari arena global dan domestik. Lonjakan harga minyak dunia di atas USD 100 per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, ditambah dengan sentimen negatif dari lembaga pemeringkat global, memicu pelemahan signifikan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah.

Related Post

Kekhawatiran utama datang dari panggung geopolitik internasional. Konflik yang memanas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah mengganggu stabilitas rantai pasok minyak global, mendorong harga komoditas energi ini melampaui ambang batas USD 100 per barel. Situasi ini bukan hanya ancaman bagi ekonomi global, tetapi juga menimbulkan bayang-bayang defisit pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia, mengingat ketergantungan negara pada impor minyak dan fluktuasi harga.
Dari dalam negeri, sentimen negatif diperparah oleh penilaian dari lembaga pemeringkat global. Keputusan MSCI terkait bobot saham Indonesia di indeks global, serta pemangkasan outlook utang RI menjadi negatif oleh Fitch Ratings, telah menumbuhkan kekhawatiran serius di kalangan investor. Prospek pasar modal Indonesia menjadi suram di tengah sinyal-sinyal peringatan ini.
Akibatnya, pasar modal Tanah Air merespons dengan koreksi tajam. Pada perdagangan Senin (09/03/2026), IHSG anjlok lebih dari 5%, menyentuh level terendah di 7.156. Bersamaan dengan itu, mata uang Garuda juga tak luput dari tekanan, dengan Rupiah melemah signifikan hingga menembus Rp 16.990 per Dolar AS, mencerminkan kepanikan investor dan arus modal keluar.
Untuk menganalisis lebih dalam tekanan yang melanda pasar keuangan Indonesia ini, Haluannews.id melalui program Closing Bell menghadirkan ulasan komprehensif dari Maria Katarina bersama Managing Editor Haluannews.id, Ayyih Ahmad, dan Hadijah Alaydrus. Diskusi ini mengupas tuntas implikasi dari gejolak global dan domestik terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Editor: Rohman








Tinggalkan komentar