Haluannews Ekonomi – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap modus kejahatan finansial terbaru yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menipu masyarakat. Modus ini meliputi pemalsuan suara dan wajah yang diambil dari media sosial korban.

Related Post
Anggota Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan bahwa penipu menggunakan AI untuk meniru suara orang terdekat korban, seperti keluarga atau teman, melalui telepon. Suara yang dipalsukan ini digunakan untuk meyakinkan korban agar mentransfer sejumlah uang.

"Apalagi saat ini dengan adanya sosial media, sangat mudah mencari suara dari seseorang, karena mereka post suara anaknya juga masuk di sosial media. Ini juga yang harus hati-hati, karena dengan teknologi ini bisa kemudian meniru suara, kemudian diolah dengan rupa, sehingga memudahkan mereka melakukan scam terhadap masyarakat," ujarnya.
Selain suara, wajah korban juga ditiru menggunakan teknologi AI untuk membuat video palsu. Video ini digunakan untuk meyakinkan korban bahwa mereka sedang berkomunikasi dengan orang yang dikenal, sehingga korban percaya dan menuruti permintaan penipu.
OJK menghimbau masyarakat untuk selalu waspada dan tidak mudah percaya jika menerima permintaan yang tidak biasa, terutama yang berkaitan dengan uang. Masyarakat disarankan untuk selalu melakukan verifikasi terlebih dahulu sebelum memenuhi permintaan tersebut.
"Oleh karena itu, kami menghimbau kepada masyarakat, kami tolong media juga sampaikan ya, untuk menjaga jika menerima permintaan yang tidak biasa, terutama permintaan yang berhubungan dengan uang. Karena pasti ujung-ujung ini kan uang ya, jadi selalu verifikasi dulu ya, kalau misalnya di telepon seperti itu, misalnya ditutup, telepon lagi ke yang kita kenal nomernya, dan lain-lain," jelasnya.
OJK mencatat, laporan penipuan yang paling banyak diterima adalah penipuan jual beli online (39.108 laporan), telepon palsu (20.628 laporan), dan penipuan investasi (14.533 laporan). Masyarakat diimbau untuk selalu berhati-hati dan waspada terhadap berbagai modus penipuan yang semakin canggih.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar