Haluannews Ekonomi – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali membuat gebrakan dengan mengumumkan kenaikan tarif impor sebesar 100% untuk semua barang asal China yang masuk ke AS. Kebijakan yang akan berlaku efektif mulai 1 November 2025 ini, merupakan respons atas langkah Beijing yang memperketat ekspor logam tanah jarang (LTJ), material penting dalam industri teknologi dan pertahanan.

Related Post
Langkah agresif Trump ini sontak menghidupkan kembali tensi perang dagang antara kedua negara ekonomi raksasa tersebut. Selain tarif impor, Trump juga mengancam akan memberlakukan kontrol ekspor terhadap perangkat lunak (software) penting asal AS ke China, juga mulai 1 November 2025.

Ancaman terbaru ini langsung mengguncang pasar keuangan global. Indeks S&P 500 anjlok lebih dari 2%, penurunan harian terbesar sejak April 2025. Investor berbondong-bondong mencari aset aman seperti emas dan obligasi pemerintah AS, sementara nilai tukar dolar AS melemah terhadap mata uang asing lainnya. Sektor teknologi menjadi yang paling terpukul akibat kebijakan ini.
Craig Singleton, seorang ahli China dari Foundation for Defense of Democracies, menilai bahwa langkah Trump ini menandai berakhirnya gencatan senjata tarif antara AS dan China. Washington memandang pembatasan ekspor LTJ oleh China sebagai sebuah pengkhianatan.
Trump menuding China telah mengirimkan surat ke berbagai negara yang menyatakan rencana untuk memberlakukan kontrol ekspor pada setiap elemen produksi yang terkait dengan tanah jarang. Ia menyebut tindakan China sebagai "panggilan permusuhan" dan menegaskan akan melawan langkah tersebut secara finansial.
Ketegangan ekonomi antara AS dan China memang meningkat dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, pemerintah AS mengusulkan pelarangan maskapai penerbangan China untuk terbang di atas wilayah udara Rusia dalam rute penerbangan ke dan dari AS. Komisi Komunikasi Federal AS juga mengumumkan bahwa situs web ritel utama AS telah menghapus jutaan daftar barang elektronik China yang dilarang.
Para analis menilai bahwa hasil pertemuan puncak antara Trump dan Xi Jinping, jika tetap dilaksanakan di sela-sela forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) pada akhir Oktober di Korea Selatan, akan menjadi penentu arah hubungan kedua negara.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar