Haluannews Ekonomi – Kabar kurang sedap datang dari PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK). Perusahaan minuman ini harus menelan pil pahit kerugian akibat bahan baku yang rusak dan kedaluwarsa senilai Rp 21,4 miliar dalam kurun waktu tiga bulan.

Related Post
Manajemen TGUK mengungkapkan bahwa pada September 2024, persediaan bahan baku masih tercatat sebesar Rp 22,5 miliar. Namun, angka ini menyusut drastis menjadi hanya Rp 1,1 miliar pada akhir Desember 2024. "Hal ini disebabkan oleh penghapusan persediaan akibat barang-barang yang rusak dan expired," jelas manajemen dalam keterbukaan informasi.

Penyebab utama dari kerugian ini adalah penurunan kinerja bisnis perusahaan yang dipicu oleh penutupan 126 gerai sepanjang tahun 2024. Akibatnya, bahan baku yang ada tidak dapat dimanfaatkan secara optimal dan akhirnya mengalami kerusakan.
Secara keseluruhan, TGUK membukukan kerugian sebesar Rp 81,27 miliar pada Desember 2024. Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya, perusahaan masih mencatatkan laba sebesar Rp 5,79 miliar. Penurunan kinerja ini disebabkan oleh rugi penjualan sebesar Rp 15,95 miliar. Penjualan TGUK anjlok 46,28% secara tahunan menjadi Rp 71,21 miliar, sementara beban operasional justru melonjak 43,06% menjadi Rp 87,15 miliar. Beban bunga bank yang naik signifikan sebesar 251,32% menjadi Rp 1,8 miliar semakin memperburuk kondisi keuangan perusahaan.
Aset perusahaan juga mengalami penurunan sebesar 33,84% menjadi Rp 132,75 miliar, terutama disebabkan oleh penurunan kas dan bank, persediaan, serta uang muka. Di sisi lain, liabilitas perusahaan justru meningkat 56,4% menjadi Rp 36,61 miliar. Utang usaha kepada pemasok bahan baku, termasuk PT Aplikasi Karya Anak Bangsa sebesar Rp 5,22 miliar, menjadi perhatian utama. Sebagian besar (99,94%) dari total utang usaha pembelian bahan baku sebesar Rp 12,39 miliar bahkan telah jatuh tempo lebih dari 90 hari. Kondisi ini menunjukkan tekanan likuiditas yang dihadapi oleh TGUK.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar