Terkuak! RI Bisa Cuan Besar di Tengah Badai Timur Tengah, Ini Rahasianya!

Terkuak! RI Bisa Cuan Besar di Tengah Badai Timur Tengah, Ini Rahasianya!

Haluannews Ekonomi – Eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi sorotan utama Indonesia Eximbank Institute (IEI), mengingat potensi dampaknya terhadap volatilitas harga energi global dan lonjakan biaya logistik perdagangan internasional. Namun, di balik awan mendung geopolitik, Indonesia justru berpotensi meraup keuntungan signifikan dari beberapa sektor kunci.

COLLABMEDIANET

Head of Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani, dalam keterangan tertulisnya pada Jumat (20/3), mengungkapkan bahwa pihaknya terus memonitor secara cermat dinamika di kawasan tersebut, termasuk keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz. "Selat Hormuz merupakan salah satu arteri utama perdagangan energi dunia, dan gangguan di sana dapat memicu efek domino," jelas Rini.

Terkuak! RI Bisa Cuan Besar di Tengah Badai Timur Tengah, Ini Rahasianya!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

IEI memproyeksikan, dengan mempertimbangkan fluktuasi harga komoditas dan kondisi perdagangan global, ekspor Indonesia pada tahun 2026 masih berpotensi tumbuh di kisaran 4-5%. Angka ini bahkan bisa meningkat menjadi sekitar 5-6% pada tahun 2027, dengan catatan pemulihan permintaan global yang bertahap dan meredanya tensi geopolitik.

Rini menjelaskan, meskipun gejolak di Timur Tengah berpotensi memicu volatilitas harga energi global dan lonjakan biaya logistik, dampak langsung terhadap perdagangan Indonesia diperkirakan relatif terbatas. Hal ini mengingat eksposur perdagangan langsung Indonesia dengan kawasan tersebut masih terbilang kecil.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi ekspor Indonesia ke kawasan Timur Tengah hanya sekitar 4,2% dari total ekspor nasional. Komoditas utama yang diekspor meliputi minyak kelapa sawit, perhiasan, serta mobil dan kendaraan bermotor. Sementara itu, impor Indonesia dari kawasan tersebut mencapai sekitar 3,9% dari total impor nasional, didominasi oleh komoditas energi, khususnya minyak. Struktur perdagangan ini menegaskan bahwa eksposur langsung Indonesia terhadap zona konflik relatif minimal.

Sebagian besar ekspor Indonesia justru mengalir ke pasar-pasar utama seperti Asia Timur (36,4%), Asia Tenggara (20,8%), Amerika Utara (11,5%), Asia Selatan (9,6%), dan Eropa Barat (5,7%). Oleh karena itu, dinamika ekonomi di kawasan-kawasan inilah yang akan lebih menentukan kinerja ekspor nasional.

Meski demikian, Rini memaparkan bahwa peran strategis Timur Tengah dalam sistem energi global tak bisa diabaikan, menyumbang lebih dari 30% produksi minyak dunia dan sekitar 20-30% perdagangan minyak global melewati Selat Hormuz. "Gangguan pada jalur ini dapat dengan cepat mempengaruhi harga energi internasional dan meningkatkan biaya logistik perdagangan global," tegasnya.

Implikasinya, meskipun Indonesia tidak secara langsung mengimpor minyak dari Timur Tengah, dampaknya tetap terasa melalui jalur perdagangan regional. Sekitar 75% impor minyak Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia, yang merupakan pusat perdagangan dan pengolahan minyak di Asia. Kedua negara ini juga mengimpor minyak mentah dari Timur Tengah, sehingga gangguan pasokan di sana akan mendorong kenaikan harga energi yang pada akhirnya dihadapi Indonesia.

IEI juga mencermati dampak perubahan distribusi energi global terhadap negara-negara pengimpor utama minyak Timur Tengah seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan. Negara-negara ini adalah konsumen energi utama dari kawasan Teluk sekaligus pasar ekspor penting bagi Indonesia. "Peningkatan biaya energi berpotensi menekan aktivitas industri di negara-negara tersebut, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi permintaan terhadap produk ekspor Indonesia," sebut Rini.

Apabila ketegangan geopolitik berlanjut dalam jangka waktu yang relatif lama, harga minyak global sepanjang tahun 2026 diperkirakan akan bergerak pada kisaran US$85-120 per barel secara rata-rata, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata awal tahun yang masih di sekitar US$60 per barel. Kenaikan harga energi dan biaya logistik ini berpotensi meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri global. Bagi eksportir Indonesia, tekanan ini akan lebih terasa pada sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor, seperti industri manufaktur, petrokimia, dan logam dasar.

"Dalam kondisi tersebut, kenaikan biaya input dapat menggerus margin produksi, terutama jika di saat yang sama permintaan global mengalami perlambatan," imbuhnya. Volatilitas pasar keuangan global juga dapat menimbulkan tekanan terhadap nilai tukar negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku bagi industri domestik.

Namun, di tengah berbagai risiko tersebut, beberapa komoditas ekspor Indonesia justru menunjukkan sinyal positif. Batubara, yang memiliki kontribusi sekitar 8-9% terhadap total ekspor nasional, berpotensi mendapatkan dorongan harga seiring kenaikan harga energi global. Selain itu, harga minyak kelapa sawit (CPO) juga menunjukkan tren yang relatif kuat, didukung oleh permintaan global yang masih solid terhadap komoditas agro ini.

Lebih lanjut, sejumlah komoditas dengan bahan baku lokal, di tengah tren penurunan suku bunga sebelumnya, turut menekan biaya produksi. Hal ini membuka ruang bagi peningkatan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar global.

"Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat menjadi penopang kinerja ekspor Indonesia dalam jangka pendek. Namun, volatilitas pada komoditas logam dan sektor industri tetap perlu diantisipasi, terutama jika perlambatan ekonomi global terjadi lebih dalam," tutup Rini, memberikan gambaran komprehensif mengenai peluang dan tantangan ekonomi Indonesia di tengah gejolak global.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar