Haluannews Ekonomi – Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri sesi perdagangan awal pekan ini dengan catatan positif, naik 0,47% ke level 8.548 pada Senin (1/12/2025). Namun, di sisi lain, mata uang Rupiah justru mengalami pelemahan tipis sebesar 0,03% dan bertengger di level Rp16.650 per Dolar AS.

Related Post
Fenomena menarik ini memunculkan pertanyaan: Mengapa surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 66 bulan berturut-turut tidak serta merta mengerek nilai tukar Rupiah? Analis pasar menyoroti beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebabnya.

Salah satunya adalah sentimen global yang masih didominasi oleh kekhawatiran terhadap potensi resesi di negara-negara maju. Hal ini mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman (safe haven), seperti Dolar AS, sehingga memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.
Selain itu, kebijakan moneter yang diambil oleh bank sentral negara lain juga turut mempengaruhi pergerakan Rupiah. Kenaikan suku bunga acuan di negara-negara maju dapat memicu arus modal keluar dari Indonesia, yang pada gilirannya dapat melemahkan nilai tukar Rupiah.
Meskipun demikian, fundamental ekonomi Indonesia secara umum masih cukup solid. Surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan menunjukkan bahwa ekspor Indonesia masih mampu melampaui impor, yang memberikan dukungan terhadap stabilitas ekonomi.
Namun, untuk memperkuat nilai tukar Rupiah, pemerintah dan Bank Indonesia perlu terus berkoordinasi untuk menjaga stabilitas makroekonomi, meningkatkan daya saing ekspor, dan menarik investasi asing langsung (FDI).
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar