Haluannews Ekonomi – Akuisisi Bank Nationalnobu (NOBU) oleh Hanwha Life Insurance telah menimbulkan guncangan di pasar saham. Pasca pengumuman resmi pada 1 Juli 2025, saham NOBU mengalami koreksi tajam. Pergerakan harga saham ini menjadi sorotan tajam para pelaku pasar modal.

Related Post
Sebelum pengumuman akuisisi, saham NOBU sempat meroket 18%, naik dari Rp 690 menjadi Rp 815 per saham. Namun, euforia tersebut sirna seketika. Setelah Hanwha resmi menguasai 40% saham NOBU dari keluarga Riady dan afiliasinya di Grup Lippo, saham NOBU langsung ambles.

Penutupan sesi I perdagangan mencatat penurunan signifikan hingga 32,52%. Harga saham kini berada di level Rp 780, menunjukkan koreksi yang cukup dalam. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan tentang valuasi dan prospek NOBU ke depan.
Menariknya, sebelum pengumuman, terjadi transaksi jumbo saham NOBU di pasar negosiasi senilai Rp 3,795 triliun. Transaksi crossing melalui Ciptadana Sekuritas Asia dan Verdhana Sekuritas Indonesia ini melibatkan 2,9 miliar saham dengan harga rata-rata Rp 1.109 per saham. Hal ini mengindikasikan adanya aktivitas pasar yang cukup signifikan menjelang pengambilalihan.
Pasca akuisisi, kepemilikan Hanwha Life di NOBU mencapai 40%, sementara kepemilikan Star Pacific terdilusi menjadi 8,31%. Haluannews.id mencatat, akuisisi ini dilakukan dengan harga dua kali lipat price to book value (PBV), menunjukkan strategi agresif dari Hanwha.
Hingga saat ini, belum ada informasi resmi mengenai mandatory tender offer (penawaran tender wajib) menyusul perubahan pengendali NOBU. Ketidakpastian ini diperkirakan turut mempengaruhi sentimen pasar dan pergerakan harga saham NOBU di masa mendatang. Para investor pun menunggu kejelasan strategi Hanwha terhadap NOBU.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar