Haluannews Ekonomi – Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan tanggapan terkait peran saham-saham yang terafiliasi dengan tokoh konglomerat dalam performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyatakan bahwa pergerakan saham tersebut adalah bagian dari dinamika pasar yang terbentuk secara alami, mencerminkan ekspektasi pasar terhadap perusahaan terkait, yang dipengaruhi oleh mekanisme permintaan dan penawaran.

Related Post
Nyoman menjelaskan bahwa harga saham di pasar sangat dipengaruhi oleh mekanisme permintaan dan penawaran, serta pertimbangan investor terhadap informasi yang tersedia untuk publik, termasuk kinerja keuangan, rencana bisnis, serta sentimen global dan domestik. Hal ini disampaikannya kepada wartawan, Kamis (24/7/2025).

Sebagai SRO (self-regulatory organization), BEI menegaskan tidak memiliki kebijakan yang membedakan emiten berdasarkan kepemilikan atau afiliasi pemegang saham pengendali. BEI memperlakukan seluruh emiten secara setara dan memastikan bahwa seluruh transaksi dilakukan berdasarkan prinsip keterbukaan, transparansi, dan kepatuhan terhadap regulasi. Selama pergerakan saham terjadi secara wajar, maka pergerakan tersebut merupakan bagian dari dinamika pasar yang sah.
BEI juga terus bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pihak terkait lainnya untuk menjaga integritas dan kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia. Kerja sama ini merupakan bagian dari komitmen BEI sebagai penyelenggara perdagangan efek yang kredibel.
BEI mengimbau investor untuk selalu melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi, dengan memperhatikan aspek fundamental, risiko investasi, serta memanfaatkan informasi yang tersedia secara publik.
Sebelumnya, IHSG dibuka menguat pada perdagangan Kamis (24/7/2025), melompat 1,11% atau 83 poin ke 7.552,20 dalam 30 menit pertama perdagangan. Penguatan ini memperpanjang reli indeks saham acuan RI tersebut, yang sempat menguat 11 hari beruntun sebelum terhenti pada perdagangan Selasa (22/7/2025), dan kembali naik signifikan pada perdagangan Rabu (23/7/2025).
Mayoritas sektor perdagangan dibuka menguat, dipimpin oleh sektor finansial dengan kenaikan lebih dari 2%. Sementara itu, sektor energi dan kesehatan tercatat mengalami koreksi tipis. Penguatan IHSG hari ini didukung oleh bangkitnya saham-saham perbankan dan blue chip lainnya secara luas. Emiten seperti DCI Indonesia (DCII) dan Chandra Daya Investasi (CDIA), yang perdagangan sahamnya sempat ditangguhkan sementara oleh BEI, menjadi penggerak utama IHSG beberapa hari ini.
Sebagai informasi, CDIA, emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu, telah memasuki hari kedua suspensi sementara akibat peningkatan harga kumulatif yang signifikan. Saham CDIA resmi melantai di BEI pada 9 Juli 2025, dan sejak itu telah naik 700% ke level 1.515, dengan kapitalisasi pasar tembus Rp 189,12 triliun dan masuk dalam jajaran emiten paling berharga di Bursa. Menurut aturan BEI, CDIA seharusnya masuk dalam Full Call Auction (FCA), sistem perdagangan di BEI untuk saham yang hanya diperdagangkan pada periode tertentu dalam sehari dengan sistem lelang penuh.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar