Haluannews Ekonomi – Rupiah memulai pekan ini dengan catatan kurang menggembirakan. Pada pembukaan perdagangan Senin (14/7/2025), mata uang Garuda ini terpantau melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Data Refinitiv menunjukkan rupiah dibuka pada level Rp16.210 per dolar AS, atau turun 0,03% dibandingkan penutupan minggu sebelumnya di Rp16.205 per dolar AS.

Related Post
Pergerakan rupiah di awal pekan ini dipengaruhi oleh sentimen global dan domestik. Di kancah internasional, tensi perdagangan yang dipicu oleh kebijakan Presiden AS Donald Trump semakin memanas. Trump mengumumkan penerapan tarif baru terhadap Uni Eropa, Meksiko, dan Kanada, yang akan berlaku mulai 1 Agustus 2025. Kebijakan proteksionisme ini berpotensi mendorong investor untuk kembali mencari aset yang lebih aman (safe haven), sehingga menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Selain itu, Trump juga menaikkan batas bawah tarif dari 10% menjadi 15%-20% terhadap banyak negara. Hal ini semakin memperkuat sinyal bahwa kebijakan proteksionisme Trump akan terus berlanjut, yang dapat memicu ketidakpastian di pasar keuangan global.
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang akan berlangsung pada Rabu (16/7/2025). Keputusan BI terkait suku bunga acuan akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah pergerakan rupiah ke depannya. Pasar akan mencermati apakah BI akan mempertahankan suku bunga, menaikkan, atau bahkan menurunkannya, mengingat tekanan inflasi dan perlambatan ekonomi global.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar