Haluannews Ekonomi – Jakarta – Rupiah memulai perdagangan akhir pekan ini dengan catatan kurang menggembirakan. Pada pembukaan pasar hari ini, Jumat (10/10/2025), mata uang Garuda terpantau melemah 0,12% dan berada di level Rp16.560 per dolar AS. Padahal, pada perdagangan sebelumnya, Kamis (9/10/2025), rupiah sempat menunjukkan taringnya dengan menguat tipis 0,09% ke posisi Rp16.540 per dolar AS.

Related Post
Pergerakan rupiah kali ini sejalan dengan sentimen pasar global, di mana indeks dolar AS (DXY) menunjukkan tren penguatan. Pada pukul 09.00 WIB, DXY berada di zona koreksi dengan pelemahan 0,17% di level 99,368.

Menguatnya dolar AS dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan pernyataan bernada "hawkish" dari pejabat bank sentral AS (The Fed). Gubernur The Fed, Michael Barr, menyampaikan bahwa bank sentral perlu berhati-hati dalam menurunkan suku bunga karena risiko inflasi yang persisten, terutama akibat potensi dampak tarif baru terhadap harga barang.
Pernyataan ini membuat pelaku pasar menahan ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat, sehingga mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dan meningkatkan daya tarik dolar AS.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi rupiah. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi AS berpotensi memicu arus keluar modal asing dari aset-aset berisiko, termasuk pasar obligasi dan saham Indonesia. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah diperkirakan akan berlanjut dalam jangka pendek, terutama jika pelaku pasar global terus mencari perlindungan pada aset dolar AS.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar