Rupiah Terjun ke Rp16.910! BI: Intervensi Tegas Tak Terelakkan

Rupiah Terjun ke Rp16.910! BI: Intervensi Tegas Tak Terelakkan

Haluannews Ekonomi – Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan signifikan pada perdagangan Rabu (4/3/2026), dengan mata uang Garuda dibuka di level Rp16.910 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini mencerminkan pelemahan sebesar 0,36% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Kondisi ini terjadi setelah rupiah sempat menunjukkan sedikit penguatan tipis 0,03% ke posisi Rp16.850 per dolar AS pada perdagangan Selasa (3/3/2026).

COLLABMEDIANET

Menurut data Refinitiv, pergerakan rupiah yang terkoreksi ini sejalan dengan menguatnya indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia. Pada pukul 09.00 WIB, DXY terpantau berada di zona hijau, naik 0,15% ke level 99,200. Penguatan dolar ini mengindikasikan preferensi investor terhadap aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian global.

Rupiah Terjun ke Rp16.910! BI: Intervensi Tegas Tak Terelakkan
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menyikapi dinamika pasar yang bergejolak, Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), menegaskan komitmen bank sentral untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Destry menyatakan bahwa BI akan melakukan intervensi yang tegas dan konsisten di pasar. "Kami akan terus hadir melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," ujar Destry dalam pernyataan resminya, Rabu (4/3/2026), seperti dikutip dari Haluannews.id.

Destry menambahkan bahwa pelemahan rupiah saat ini masih sejalan dengan tren regional. Secara month-to-date (MTD), rupiah melemah 0,51%, relatif lebih baik dibandingkan kinerja mata uang di kawasan lain. Fondasi ekonomi domestik juga dinilai masih kuat, tercermin dari cadangan devisa yang tetap terjaga di level US$154,6 miliar pada akhir Januari 2026, serta arus masuk modal asing di pasar keuangan domestik yang mencapai Rp25,7 triliun sepanjang tahun 2026.

Pergerakan rupiah hari ini sebagian besar dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Situasi ini telah memicu peningkatan tajam ketidakpastian di pasar global, mendorong pelaku pasar untuk beralih dari aset berisiko (mode risk-off) dan mencari perlindungan pada aset safe haven seperti dolar AS.

Serangan yang dilancarkan oleh Israel dan AS terhadap sejumlah target di Iran semakin memperkeruh suasana, menimbulkan kekhawatiran baru akan lonjakan inflasi global dan gangguan pasokan energi. Akibatnya, harga minyak dan gas dunia meroket, seiring dengan terhambatnya ekspor energi dari Timur Tengah. Gangguan pada jalur pelayaran di kawasan Teluk serta penghentian produksi di beberapa negara, termasuk Qatar dan Irak, semakin memperkuat tekanan ini. Kondisi tersebut pada akhirnya mengerek permintaan terhadap dolar AS, sekaligus memberikan tekanan berat pada mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar