Haluannews Ekonomi – Nilai tukar rupiah dibuka tanpa daya di hadapan dolar AS pada perdagangan Jumat (21/11/2025). Pagi ini, mata uang Garuda masih betah di level Rp16.725 per dolar AS, menunjukkan tekanan yang belum mereda. Posisi ini sama persis dengan penutupan perdagangan hari sebelumnya, Kamis (20/11/2025), di mana rupiah sudah melemah 0,21%.

Related Post
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi barometer kekuatan Greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tampak kokoh di level 100,160 pada pukul 09.00 WIB. Meskipun sempat melemah tipis 0,07% pada perdagangan sebelumnya, dolar AS masih menunjukkan dominasinya.

Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan akan dipengaruhi oleh pengumuman data uang beredar (M2) periode Oktober 2025 oleh Bank Indonesia (BI). Data ini menjadi acuan penting untuk mengukur likuiditas perbankan dan permintaan kredit. Pasar akan mencermati apakah peningkatan likuiditas akan mendorong aktivitas ekonomi atau justru memicu kekhawatiran inflasi yang dapat mempengaruhi kebijakan moneter BI.
Sebagai informasi tambahan, pada September 2025, uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh lebih tinggi, mencapai 8,0% (yoy) menjadi Rp9.771,3 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Agustus 2025 yang sebesar 7,6% (yoy). Kenaikan ini didorong oleh ekspansi uang beredar sempit (M1) yang tumbuh 10,7% (yoy) serta uang kuasi yang naik 6,2% (yoy).
Dari sisi eksternal, pergerakan dolar AS di pasar global tetap menjadi faktor utama yang membayangi rupiah. Dolar AS sedang menuju penguatan mingguan terbaik dalam lebih dari sebulan terakhir, didorong oleh ekspektasi pasar bahwa The Federal Reserve (The Fed) kemungkinan besar tidak akan menurunkan suku bunga pada Desember mendatang. Sentimen ini menguat setelah laporan tenaga kerja AS yang sempat tertunda menunjukkan pertumbuhan pekerjaan yang solid, meskipun tingkat pengangguran naik menjadi 4,4%, level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar