haluannews.id – Pasar keuangan Indonesia tengah diwarnai optimisme. Mata uang Garuda diprediksi bakal menunjukkan kekuatannya di hadapan dolar Amerika Serikat, bahkan berpotensi menembus level psikologis Rp17.500 per dolar AS. Pemicu utamanya tak lain adalah harapan tercapainya perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Iran yang diperkirakan rampung pekan ini. Sejumlah ekonom ternama ramai-ramai menyuarakan proyeksi cerah ini, memberikan sinyal positif bagi investor.

Related Post
Myrdal Gunarto, Ekonom dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, mengungkapkan bahwa meredanya ketegangan geopolitik pasca-perjanjian damai akan menjadi angin segar bagi pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. "Ini jelas menjadi sinyal positif bagi penguatan rupiah," ujar Myrdal. Ia bahkan tak ragu memproyeksikan potensi rupiah kembali ke Rp17.500 per dolar AS jika kesepakatan tersebut benar-benar terwujud, dengan level resistansi kunci di Rp17.426 per dolar AS. Namun, Myrdal menambahkan, penguatan signifikan ini juga memerlukan sokongan dari faktor lain, seperti penurunan harga minyak global di bawah US$80 per barel dan fundamental perusahaan domestik yang menarik untuk memikat arus modal asing.

Senada, Josua Pardede, Ekonom Bank Permata, melihat rencana perjanjian damai AS-Iran sebagai katalis positif yang kuat bagi rupiah. "Rupiah bisa saja melonjak ke Rp17.500 per dolar AS," kata Josua. Meski demikian, ia menekankan bahwa untuk mempertahankan posisi di level tersebut, dibutuhkan kombinasi pendorong yang sangat solid. Faktor-faktor pendukung tersebut meliputi kelancaran penandatanganan kesepakatan, harga minyak yang terus merosot, pelemahan dolar AS secara global, berlanjutnya aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sertifikat Bank Indonesia (SRBI), serta ketiadaan kejutan negatif dari kebijakan domestik. Josua memproyeksikan pergerakan rupiah dalam rentang Rp17.550 hingga Rp17.850 per dolar AS.
Namun, tidak semua ekonom seoptimistis itu dalam jangka pendek. David Sumual, Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA), mengakui bahwa perjanjian damai tersebut memang menjadi sinyal positif bagi pasar global, termasuk Indonesia. Kendati demikian, ia memprediksi rupiah belum akan menyentuh level Rp17.500 per dolar AS dalam pekan ini. Menurut David, diperlukan lebih banyak katalis tambahan selain kesepakatan AS-Iran, seperti keputusan Federal Reserve (The Fed) yang kurang hawkish, stabilitas geopolitik yang lebih meyakinkan pasar, serta langkah pro-stabilitas dari Bank Indonesia. Untuk pekan ini, David memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS, dengan asumsi tidak ada faktor positif atau negatif lain yang muncul.
Secara keseluruhan, prospek penguatan rupiah tampak menjanjikan dengan adanya potensi perjanjian damai AS-Iran. Namun, keberlanjutan dan besaran apresiasi rupiah akan sangat bergantung pada kombinasi berbagai faktor ekonomi dan geopolitik global, serta kebijakan domestik yang mendukung. Pasar akan terus mencermati perkembangan ini dengan seksama.










Tinggalkan komentar