Haluannews Ekonomi – Gelombang kekhawatiran menghantam publik seiring dengan tertekannya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang sempat mendekati level Rp17.000. Isu krisis ekonomi pun kembali mencuat. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan tegas membantah kemungkinan terjadinya krisis ekonomi di Indonesia.

Related Post
Purbaya menjelaskan bahwa pelemahan rupiah lebih disebabkan oleh faktor eksternal, yaitu meningkatnya ketidakpastian global yang dipicu oleh tensi geopolitik dan kebijakan suku bunga The Fed yang fluktuatif. Ia menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih solid.

Indikator-indikator ekonomi utama menunjukkan performa yang positif. Pertumbuhan ekonomi masih berada di atas 5%, inflasi terkendali di kisaran 3%, dan defisit transaksi berjalan (current account deficit) dalam batas aman.
"Fundamental kita sangat baik. Kebijakan sudah sinkron dengan otoritas moneter. Ekonomi akan makin cepat, investor akan masuk, rupiah menguat, pasar modal juga menguat," ujar Purbaya, meyakinkan para pelaku pasar.
Menanggapi spekulasi yang menghubungkan pelemahan rupiah dengan isu pencalonan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia, Purbaya menegaskan bahwa pelemahan rupiah terjadi sebelum isu tersebut mencuat. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antara Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan seluruh elemen pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Kabar baiknya, dalam dua hari terakhir, rupiah menunjukkan tren penguatan dan kembali menyentuh level Rp16.800 per dolar AS. Purbaya juga mengungkapkan bahwa terjadi arus modal masuk (capital inflow) dari Oktober hingga Januari. "Dengan strategi baru Bank Sentral, memperkuat Rupiah enggak terlalu sulit," pungkasnya.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar