Revolusi Investasi! Pasar Modal RI Gaet 17 Juta Investor Baru

Revolusi Investasi! Pasar Modal RI Gaet 17 Juta Investor Baru

Haluannews Ekonomi – Yogyakarta – Pasar modal Indonesia menunjukkan geliat luar biasa dengan lonjakan jumlah investor yang masif dalam lima tahun terakhir. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat akumulasi penambahan investor menembus angka 17 juta jiwa, didorong oleh antusiasme masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap instrumen investasi saham.

COLLABMEDIANET

Pjs Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, dalam gelaran Jogja Financial Festival (Finfest) 2026 di Yogyakarta pada Jumat (22/5/2026), memaparkan bahwa jumlah investor pasar modal yang pada tahun 2020 masih berada di kisaran 10 juta, kini telah melonjak drastis menjadi 27,4 juta. "Dalam rentang waktu lima tahun, terjadi penambahan lebih dari 17 juta investor, atau kenaikan lebih dari dua kali lipat," jelas Jeffrey, seperti dikutip Haluannews.id.

Revolusi Investasi! Pasar Modal RI Gaet 17 Juta Investor Baru
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Jeffrey menyoroti bahwa tren peningkatan signifikan ini mulai terlihat jelas sejak pandemi Covid-19 melanda. Periode tersebut menjadi katalisator penting, di mana masyarakat mulai aktif mencari alternatif investasi di tengah ketidakpastian ekonomi. "Selama dua tahun pandemi Covid-19, jumlah investor tumbuh pesat dari sekitar 4-5 juta menjadi 10 juta," tambahnya.

Pertumbuhan investor yang eksplosif ini, menurut Jeffrey, merupakan indikator prospektif bahwa tingkat literasi dan kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pentingnya investasi di pasar modal semakin meningkat. Ia juga menekankan bahwa dinamika pasar modal secara intrinsik berkorelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi nasional, menjadikannya sinyal baik bagi prospek perekonomian Indonesia ke depan.

Optimisme terhadap pasar modal Indonesia juga tercermin dari terus bertambahnya investor baru. Sepanjang tahun 2025, BEI mencatat sekitar 2,5 juta investor baru berhasil digaet. Sementara itu, hingga 20 Mei 2026, jumlah investor baru telah mencapai sekitar 7,4 juta. "Ini menegaskan bahwa optimisme dan kepercayaan terhadap prospek pasar modal Indonesia tetap kokoh," kata Jeffrey.

Meskipun demikian, Jeffrey mengingatkan bahwa investasi saham memiliki risiko inheren yang perlu dipahami investor. Saham merepresentasikan kepemilikan atas suatu perusahaan, yang berarti investor berpotensi memperoleh dividen jika perusahaan mencetak keuntungan. Namun, harga saham yang diperdagangkan di BEI juga sangat fluktuatif, dapat naik dan turun seiring dinamika pasar. "Pada saat harga naik, ada potensi keuntungan modal (capital gain), namun saat harga turun, ada risiko kerugian potensial (potential loss)," pungkasnya.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar