Haluannews Ekonomi – PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), induk perusahaan Lawson di Indonesia, membuat gebrakan dengan melepas 300 gerai Lawson kepada PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Langkah strategis ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar. Apa yang sebenarnya terjadi di balik layar transaksi afiliasi ini?

Related Post
Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), MIDI menjelaskan penjualan tersebut bertujuan untuk mengoptimalkan alokasi sumber daya. Dana segar hasil penjualan, menurut manajemen, akan dialokasikan untuk membiayai operasional dan belanja modal perusahaan hingga Rp 1,5 triliun di tahun 2025. Dana ini akan digunakan untuk ekspansi gerai baru (target 200 gerai), pembangunan gudang, perpanjangan sewa, serta renovasi gerai dan gudang yang sudah ada.

Meskipun kontribusi Lawson terhadap pendapatan bersih MIDI terbilang kecil, hanya 6,8% di tahun 2024 dan merosot menjadi 4,3% di kuartal pertama 2025, penjualan ini dianggap sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kinerja keuangan MIDI secara keseluruhan. Manajemen MIDI berharap, dengan fokus pada portofolio bisnis ritel inti, perusahaan dapat meningkatkan profitabilitas dan arus kas, demi memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham.
MIDI juga menjelaskan pengurangan gerai Lawson sebanyak 300 unit pada tahun 2024 merupakan hal biasa dalam bisnis ritel. Penutupan gerai, menurut mereka, bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti berakhirnya masa sewa, atau penurunan kinerja gerai akibat perubahan lingkungan sekitar. MIDI menegaskan tidak ada rencana kerja sama dengan perusahaan ritel lain setelah penjualan Lawson ini.
Langkah MIDI ini menunjukkan strategi agresif dalam mengelola portofolio bisnis dan fokus pada inti usaha. Apakah strategi ini akan membuahkan hasil positif bagi MIDI? Waktu yang akan menjawabnya.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar