Haluannews Ekonomi – Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) secara resmi membuka lembaran baru perdagangan Bursa Berjangka Komoditi Indonesia, yakni Bursa Berjangka Jakarta (BBJ), Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI), serta Indo Bursa Karisma Berjangka (IKB), mengawali tahun 2026 pada tanggal 2 Januari. Pembukaan ini menandai dimulainya aktivitas perdagangan yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Related Post
Menilik dinamika pasar komoditas domestik, Direktur Utama Finex Bisnis Solusi Futures (FINEX), Agung Wisnuaji, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025, pergerakan bursa berjangka menunjukkan volatilitas yang signifikan. Produk-produk seperti emas, minyak mentah, dan CPO menjadi primadona yang mendominasi transaksi. Kondisi ini, menurut Agung, tidak terlepas dari pengaruh perkembangan global, termasuk eskalasi perang dagang dan ketegangan geopolitik dunia, yang diproyeksikan masih akan membayangi prospek pasar di tahun 2026.

Dalam rangka mengoptimalkan potensi pasar dan meningkatkan partisipasi investor, Agung Wisnuaji menekankan urgensi edukasi serta peningkatan literasi keuangan terkait investasi di bursa berjangka. Fenomena menarik terlihat dari pertumbuhan investor pasar berjangka yang kini merambah segmen Milenial dan Gen Z. Generasi muda ini, dengan karakteristik adaptif terhadap teknologi dan informasi, banyak menyasar produk berjangka seperti emas dan perak, yang dianggap memiliki daya tarik investasi yang menjanjikan bahkan dengan modal yang relatif terjangkau.
Lalu, bagaimana strategi investasi yang tepat untuk menghadapi tantangan dan mengoptimalkan peluang di bursa berjangka sepanjang tahun 2026? Haluannews.id akan mengupas tuntas pandangan dan analisis mendalam dari Direktur Utama FINEX, Agung Wisnuaji, dalam segmen khusus yang disiarkan pada Senin, 05 Januari 2026, untuk memberikan panduan komprehensif bagi para investor.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar